Mas Kawinnya 20 Mayam

Image : Ama Atiby

Disuatu cafe di sudut kota Banda Aceh (Pertengahan tahun 2010).

“Gimana acara lamarannya, rol? “ Tanyaku disela-sela obrolan kami.

“Ya begitulah” sahutnya.

“Begitu bangaimana?” buruku penasaran.

“Ditunda sampai tahun depan. Masih perlu waktu buatku mempertimbangkan semuanya” Jawabnya lesu.

“Mempertimbangkan apa? Jelas-jelas kamu mencintai dia, kalian kan sudah lebih 2 tahun berpacaran. Ortunya juga sudah memberi restu.”

“Bukan itu masalahnya, Ma (sapaan akrabku). Saat lamaran kemarin Ortunya mematok 20 Mayam, sedang aku mempersiapkan separuhnya”

“Hah…!!” Sahutku melongo. “Apa karena dia Cut?”

“Ciah… apalah artinya cut sekarang, Ma. Aku sampai terkaget-kaget mendengar jumlahnya. Kupikir ortunya sudah menerimaku. Kau tau sendiri kan ma, setelah tsunami aku sebatang kara, dan belum 5 tahun jadi polisi. Selama ini aku selalu membantunya termasuk jajan dan iuran kuliahnya, bapaknya sudah pensiun. Bahkan terkadang aku membantu keuangan keluarganya. 20 mayam itu sanggup kupenuhi, Ma. Cuma nikah itu bukan hanya Mas Kawin. Aku harus menaggung sendiri ‘peunuwo’ nya (baca :seserahan), belum lagi tetek bengek lainnya. Aku ga mau setelah menikah nanti tabunganku ga ada.”

– – – o O o – – –

Cerita temanku diatas bagi sebagian orang adalah hal yang sepele dan ga perlu dibahas. Tapi bagiku persoalan mas kawin ini patut dan menarik untuk disimak. Permasalahan mahar (mas kawin) merupakan hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Betapa tidak, kalau membahasnya maka kita akan merunut kepada budaya dan sosial tempat kita tinggal, dan agama yang kita anut, dengan ruang lingkup yang sangat luas. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh yang sangat kental dengan adat dan budayanya.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri fenomena mas kawin ini telah ramai dibicarakan dan telah lama menjadi bahan perhatian. Menurut pandangan saya, Mahar yang ditetapkan untuk pernikahan telah sangat melenceng dari hakikat mahar sebenarnya. Seiring dengan munuculnya fenomena gengsi dan prestisi di kalangan masyarakat dan itu sudah menjadi rahasia umum. Maka, tidaklah mengherankan kalau ada anak gadis dari keluarga mampu, cantik, terpelajar apalagi bekerja mahar yang di patok keluarganya ‘selangit’ (bagi sebagian orang) belum lagi klo ia mempunyai garis keturunan ‘cut’, ‘pocut’, ‘tengku’ atau ‘syarifah’. Upz, itu belum seberapa, dibeberapa daerah di Aceh bahkan menambahkan biaya untuk “asoe kama” (Isi kamar: Tempat tidur, lemari dan Toilet) dan “uang hangus” (untuk keperluan pesta) yang semuanya ditanggung oleh mempelai laki-laki.

Oke lah… klo memang calon mempelainya memiliki semua atau minimal dua (klo cantik kan relatif banget hukumnya) dari kriteria yang saya sebutkan diatas, karena memang pantas (calon suaminya juga pasti cukup ‘tau diri’ untuk melamarnya). Bagaimana dengan mereka yang berasal dari keluarga yang sederhana (bisa dibilang pas-pasan). Apa yang memotivasi keluarganya untuk mematok mas kawin ‘selangit’ terlebih klo mengetahui ‘sang menantunya’ memiliki kesanggupan untuk memenuhinya (peduli mati klo harus ngutang sana sini). Saya tidak tahu jawabannya. Tapi saya ga heran klo melihat sang mempelai wanita setelah pesta yang meriah tidak mengenakan mas kawinnya bahkan untuk semayam cicin di jari manisnya.

Lho..?! Jadi, apa artinya mas kawin?

1 Mayam = 3,37 gram = ± Rp 1.400.000

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Lifestyle and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Mas Kawinnya 20 Mayam

  1. buzzerbeezz says:

    “Cuma nikah itu bukan hanya Mas Kawin. Aku harus menaggung sendiri ‘peunuwo’ nya (baca :seserahan), belum lagi tetek bengek lainnya. Aku ga mau setelah menikah nanti tabunganku ga ada.” Saya trenyuh baca post dan terutama quote ini.

    Seharusnya menikah kan tidak memberatkan ya..

  2. Ashinura says:

    membaca post ini, saya jadi miris melihat tradisi sebagian orang kita yang sudah melenceng dari sunah Rassul mengenai mahar., padahal Rassul menganjurkan : “sebaik-baiknya mahar adalah yang meringankan”

  3. Aulia says:

    wow 20 mayam hmm mikir keras😀

  4. zakaria says:

    Identitas mulianya keluarga kadang-kadang ditentukan oleh tinggi rendahnya mahar, mewah tidaknya asok kama “kamar pengantin”. Itulah beberapa pandangan sebagian orang tua, kasihan sekali anak mereka. Untuk terpenuhi itu semua, mereka membiarkan terus anaknya berpacaran..bukan mempercepat nikah..
    Mantap tulisanya..

  5. tapi jinoe ka ji ek lalaju, hadeuuuuuh,, pusing aku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s