Wild – Rahasia Aeva – (#3. Born To Be Wild or Die Hard)

Tak jarang ketika kita melangkah dari keterpurukan, selalu saja ada masalah dan dilemma yang menerjang. Sebijak manusia adalah yang mempunyai daya nalar dan kemampuan yang tinggi untuk menjadi seorang problem solver yang handal. Dulu Euler pernah menyatakan suatu rumus matematika terindah, tapi sesungguhnya hanya dari dalam kita sendirilah solusi itu hadir.

“ Maaf ya buk… ruangannya masih berantakan. Saya tidak berani membereskan ruangan kerja pak Haris ini tanpa seizin keluarganya.” Ujar Anita gugup. sudah tiga tahun ia bekerja di kantor ini sebagai assisten om Haris. Sekarang ia adalah assistenku. Ia lebih senior dariku, usianya 30 tahun, telah menikah dan memiliki 2 orang putri.

“Tak apa… biarkan semua seperti sedia kala, nanti kalaupun ada perubahan akan saya sesuaikan sendiri. Tata ruangan ini sudah cukup baik kok.”

Kuperhatikan dia yang masih berdiri mematung di pintu. Agak risih juga aku melihatnya.

“Bisa tinggalkan saya sendiri.”

“Oh… eum… iya buk… nanti kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan hubungi saya.” Jawabnya gugup sambil berlalu dari hadapanku.

Aku masih merasa takjub dengan dekorasi ruangan yang berukuran 4×5 meter ini. Sangat artistik. Om haris memang seorang arsitek sekaligus seniman ulung. Ia mampu menciptakan suasana yang begitu mempersona diruangan ini. Ditengah ruangan terdapat sebuah ‘office desk’ berbentuk letter L yang dilengkapi dengan perangkat kantor seperti computer dan file folder. Dibelakangnya terdapat sebuah lemari dimana tersimpan buku-buku dan dokumen-dokumen penting perusahaan. Disudut ruangan dekat toilet terdapat tanaman hias hidup dari jenis akasia. Sebuah lukisan abstrak bangunan khas arsitektur terpajang di dinding yang menghadap meja kerja yang membuat tatanan ruangan menjadi semakin unik. Ruangan kantor ini tidak sesumpek yang aku bayangkan.

Kutarik kursi dan merebahkan diri diatasnya. Kubuka laci meja satu persatu dan astaga betapa terperangahnya aku melihat sebuah kotak perhiasan berwarna merah hati di dalam laci paling bawah. Dengan cepat aku membuka kotak mungil itu mendapati sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian tiga butir berlian 24 karat. Belum habis keterkejutanku ketika kuperhatikan sebuah goresan di belakang lingkaran cincin itu. Goresan yang mengukir sebuah nama “Aeva & Haris”

Tak pelak aku menjadi begitu menggangga. Bagai membuka luka lama. Kukenakan cincin itu di jari manisku. Indah sekali… Kupandangi langit-langit ruangan ini perasaanku menerawang jauh dalam ruang hampa dan kesedihan yang mendalam.

Akh… sialan. Aku benci perasaan melankonis ini. Kuhapus dengan cepat butiran bening yang menggenang di pelupuk mataku. Aku tak ingin terus larut dalam perasaan berdosa. Aku harus bangkit. Dengan cepat aku melepaskan cincin itu, Meletakkan kembali ketempat ia berada. Aku tidak akan pernah membuka laci ini lagi. Camku dalam hati.

****

“Perkenalkan nama saya Aevaria Meldya Syahputri. Saya bekerja sebagai manager keuangan baru di kantor ini. Senang bisa berkenalan dengan anda sekalian, dan semoga kita bisa menjadi team yang solid.”

Begitulah kira-kira isi perkenalanku sebagai karyawan baru disaat rapat pimpinan pemegang saham dan Evaluasi tahunan PT. Cipta Karya Mandiri. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan Mega Utama Corporation yang bergerak dibidang jasa konstruksi fisik seperti bangunan, jalan dan jembatan. Belakangan juga Mega Utama telah membuka bisnis barunya di bagian real estate. Hampir separuh saham diperusahaan ini dipegang oleh keluarga papaku sebagai pihak mayoritas, sedangkan sisanya dipengang oleh kalangan perwakilan buruh dan investor asing yang menanamkan modalnya. Tentunya sebagai anak lelaki tunggal, papalah yang berhak untuk mengelola perusahaan selain tante Mirna. Karena tante Mirna tidak bersuami dan tidak memiliki anak, perusahaan jadi sepenuhnya dikendalikan oleh papa.

Rapat yang dijadwalkan pada tanggal 15 January, harus ditunda karena peristiwa yang menimpa Om Haris. Setelah mempersiapkan bahan rujukan dan penyesuaan, rapat ini akhirnya terlaksana juga dengan agenda utama mendengarkan laporan pertanggung jawaban dari setiap bagian dan divisi, sekaligus membahas rancangan kerja untuk 1 tahun yang akan datang, berikut visi dan misinya. Tapi yang tak kalah pentingnya adalah penetapan calon kuat pengganti om Haris. Aku baru mengetahui beberapa hari yang lalu saat aku untuk pertama kalinya datang ke kantor ini, bahwa ternyata ada lima orang calon kuat yang telah diajukan oleh kepala-kepala bagian baik dari PT Cipta Mandiri sendiri, maupun dari Mega Utama Mandiri. Tapi setelah papa mengajukan namaku, kelima orang tersebut gagal untuk menduduki jabatan penting itu. Hanya seorang saja dari mereka yang di pertimbangkan itupun sebagai kepala bagian humas, untuk menggantikan Pak Hassan yang pensiun tahun ini. Aku yakin pemilihan ini disetujui karena ada beberapa kenalan papa di Mega Utama Mandiri yang mengetahui tentang hubunganku dengan papa. Walaupun teman-teman papa telah berjanji tidak akan mengungkit tentang hubungan kami, tetap saja aku merasa tidak enak lantaran kelima orang yang direkomendasikan itu lebih pantas untuk jabatan ini.

PT. Cipta Mandiri bergerak dibidang Real Estate dan baru berjalan selama 5 tahun. Dengan sokongan dana yang mengalir lancar dari perusahaan induknya, perusahaan ini telah membangun sedikitnya 3 kawasan pengembangan baru di pulau jawa dan 2 kawasan di luar pulau Jawa, Medan dan Palembang. Bekerja di suatu perusahaan bukanlah hal yang baru untukku, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, aku pernah magang di salah satu perusahaan produsen makanan instant yang sangat terkenal di negeri ini selama hampir tiga bulan dalam rangka menyelesaikan Kuliah Kerja Profesi sebelum mengambil tugas akhir (skripsi). Karena koneksi dari papaku juga akhirnya aku bisa magang dikantor itu, padahal latar belakangku bukan Ekonomi. Tapi aku sangat serius menekuni pekerjaanku, buktinya, aku berhasi menyelesaiakan dan membuat analisis neraca keuangan dengan hasil yang memuaskan.

Kuperhatikan para kolega yang sedang memperkenalkan dirinya padaku satu per satu. Kecuali direktur, dan staff senior Mega Utama Mandiri, banyak diantara mereka adalah para eksekutif muda. Disinilah kemudian aku bertemu dengan Sanditya Dani Nugraha, seorang artitek muda berbakat yang kemudian menjadi kekasihku.

*****

Setahun kemudian

“Kamu lagi ngetik apa sih?”

Astaga… hampir saja jantungku ini melompat karena kaget. Dengan cepat aku mengganti halaman webpage yang muncul dilayar Macbook. Aku tak ingin dia mengetahui diary onlineku ini.

“lagi browsing… tumben cepat banget kamu mandi?” tanyaku kesal. Kuperhatikan dia yang hanya mengenakan handuk sepinggang duduk disebelahku.

“Dari tadi aku nungguin kamu, tapi yang ditunggu ga nongol-nongol, wajar donk kalau aku balik dan ngajak kamu mandi sekalian.”

“Udahlah San… aku lagi ga mood ne.” Dengan bergegas aku bangkit dari tempat tidurku dan kembali menuang wine merah tua kegemaranku.

“Kamu semalam mabuk berat Va… Masih getol aja minum-minum begitu.”

“Kepalaku pusing San…”

“Wajar aja kamu pusing”

“Sayang… kurangi sedikit kebiasaan minum-minum kamu itu.” Dengan cepat ia meraih gelas ditanganku dan menarikku kembali ke dalam dekapannya.

“Aku begitu mengkhawatirkan kamu, Va… aku tidak suka kamu clubbing dengan teman-teman kamu itu. Beberapa bulan lagi kita akan menikah, jadi pikirkanlah tentang aku dan masa depan hubungan kita. Bayangkan bagaimana perasaanku ketika menjemput kamu dari club malam dalam keadaan mabuk begitu.”

“Jangan menceramahi aku, San… dari awal juga kamu sudah tahu kebisaanku.” Jawabku ketus. Kutepis tangannya dari wajahku.

“AEVA..!!” Dengan sigap Sandy kembali meraih tubuhku. “Aku mau bicara sama kamu, Va…! Serius…!!”

“Sudah setahun ini kita berpacaran, tapi aku seperti tidak mengenali kamu. Aku belum bisa membaca isi hati kamu”

“Mungkin kau tidak sadar Aeva… setiap kamu mabuk dan akhirnya kita bercinta… kamu… eum… KAMU SELALU MENYEBUTKAN NAMA LAKI-LAKI LAIN..!!”

Bagai sebuah tamparan aku mandengar penuturannya.

“BUKAN SEKALI, VA… TAPI SUDAH BERKALI-KALI…”

“Aku ingin pengakuan dari kamu, aku mau kamu jujur” Dengan keras ia mencengkram bahuku dan menatap mataku sayu.

“Siapa Haris?”

“Itu bukan urusan kamu San… Aku tidak suka kamu mencampuri kehidupanku lebih jauh.”

“MENCAMPURI GIMANA AEVA…?! KAMU ITU CALON ISTRIKU… AKU BERHAK MENGETAHUI TENTANG KEHIDUPANMU. AKU BERHAK MENGETAHUI MASA LALUMU…”

“AKU CURIGA… HARIS ITU OM KAMU, KAN?!”

Aku sudah tak kuasa lagi menatap matanya. Hatiku perih… Tubuhku gemetar.. Kugigit keras bibir bawahku. Aku berharap semoga air mata tidak tumpah saat ini. Kugelengkan kepalaku dan kupalingkan wajahku dari mata yang sedang menatapku nanar.

“JADI SIAPA HARIS…? APA DIA MANTAN PACAR KAMU?”

“JAWAB AEVA…!!!”

“Hatiku begitu sakit mendengar kamu yang selalu berdesah menyebutkan namanya disaat kau sedang dalam pelukanku…”

“Kau tahu Aeva…. Hanya disaat mabuk saja kamu menjadi begitu jujur dengan perasaanmu. Saat itu… tak ada sedikitpun pandanganmu melihat aku… Melihat aku seutuhnya… Kau menemukan banyangan laki-laki lain dalam sosok diriku, Aeva… Kau begitu kejam” Ujarnya lirih.

“Kalau kau sudah tidak tahan denganku… Tinggalkan saja aku!” Jawabku ketus.

“KAU…. !!!” Bola matanya membelalak menatapku.

“AEVA… TIDAKKAH KAU MEMAHAMI BAGAIMANA PERASAANKU..? WALAU… SEDIKIT SAJA…?”

Ia mengguncang tubuhku keras… Aku sudah tidak tahan lagi diberondong dengan segala keluh kesahnya.

“Lepasakan aku San… Aku mau mandi…”

Dengan susah payah akhirnya aku melepaskan diriku dari cengkraman tangannya. Ia menatapku dengan heran. Kulucuti gaun tidurku dan beranjak menuju kamar mandi. Kuguyur sekujur tubuhku dengan air dingin. Hatiku berdesah lirih… “Kamu memang bajingan Haris… Bahkan setelah matipun kau terus mengusik kehidupanku.” Kugigit bibirku bawahku meredam segala gemuruh dalam hati. Terisakku dalam keperihan yang dalam.

Samar-samar kedengar derit pintu yang terbuka… kudapati sesosok tubuh yang polos menghampiriku, lalu mencium tengkuk dan pundakku. “Aku mencintaimu, Aeva… Aku tak ingin kehilangan kamu. Mulai sekarang lihatlah aku… hanya aku saja Aeva…” Bisiknya lirih. Tangannya sambil mendekap erat tubuhku. Kupasrahkan diriku dalam pelukannya. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirku yang kelu. Kupandangi tubuh telanjangku yang sedang digumulinya. Kuresapi setiap sentuhannya… Tidak sama… Walau tubuh menyerah pada hastrat, tapi hati memang tak bisa berdusta… Dia bukan Haris, Oh… Aku merindukan Haris…

*****

“Bu… Ini surat pengunduran diri saya.” Ujar Anita yang menghampiri meja kerjaku.

“Berat sekali aku menerima surat ini… padahal aku sangat membutuhkanmu…”

“Maafkan saya bu… Tapi dengan kondisi saya yang sedang hamil tua ini hanya akan menghambat kinerja saya dan pastinya akan merepotkan ibu juga.”

“Tidak Anita… Kamu jangan merasa sungkan padaku. Aku justru kecewa kamu menolak cuti yang saya tawarkan.”

“Hm… saya ingin fokus menjadi ibu rumah tangga saja.. Suami juga kurang setuju kalau saya lanjut bekerja. Anak-anak sering terbengkalai dan jadi kurang diperhatikan.”

“Yah… kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Kabari aku waktu kamu melahirkan nanti ya.”

“Iya bu… eum… sebenarnya saya senang bekerja dikantor ini. Saya bersyukur mendapatkan atasan yang baik seperti Ibu dan Pak Haris. Eum… Terus terang saya kaget sekali saat pertama melihat ibu datang ke kantor ini dan tak menyangka pada akhirnya ibu akan menjadi atasan saya. Dari dulu saya ingin mengatakan ini… eum… tapi saya ragu, apakah hal ini harus diungkit lagi.”

“Maksud kamu apa Anita?”

“Eum… Dulu pak Haris pernah menceritakan perihal wanita yang sangat dicintainya. Beberapa saat sebelum beliau meninggal, ia meminta saya menemaninya memilihkan sebuah cincin untuk melamarnya. Ia lalu memperlihatkan foto wanita itu pada saya. Saya kaget… Ternyata Ibu adalah wanita yang sangat dicintai pak Haris. Saya tak menyangka akan bertemu dengan orang yang selama ini selalu saya dengarkan lewat cerita-cerita pak Haris”

“Apa saja yang pak Haris katakan pada kamu Anita?” selidikku lebih jauh.

“Eum… yang pasti saya bisa merasakan betapa Pak Haris begitu mencintai ibu. Beliau betul-betul tulus akan perasaannya. Beliau juga orang yang sangat baik. Saya tidak tahu penyebab kematiannya. Tapi saya berdoa ia mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya.”

Wajar saja ia tidak tahu sebab kematian Haris, karena keluarga sangat menutup rapat perihal kematiannya yang tragis. Aku tak menyangka Haris akan menceritakan hubungan kami pada Anita. Pasti ada sesuati pada diri Anita yang membuatnya merasa istimewa bagi Haris. Haris bukanlah orang yang terbuka menceritakan kehidupan pribadinya. Apalagi yang menyangkut hubungannya denganku.

“Makasih Anita. Eum… Maukah kau menyimpan hal ini. Hm… maksudku…” Belum sempat aku melanjutkan, Anita kembali memotong pembicaraanku.

“Tenang saja bu… Saya janji ini hanya diantara kita saja. Saya sangat menghormati ibu dan pak Haris. Eum… saya juga mendoakan untuk kebahagiaan ibu”

“Terima Kasih Anita, atas pengertiannya. Eum… kamu ada usulan tidak, siapa yang akan menggatikan posisi kamu. Saya akan mempertimbangkannya.”

“Eum… Saya mempunyai seorang keponakan yang sudah dua tahun menganggur. Latar belakang pendidikannya S-1 Ekonomi Akuntansi.”

“Wah… bagus sekali itu… Minta dia untuk segera mengajukan lamaran.”

“Tapi ia seorang laki-laki bu”

“Tak apa, saya tidak terlalu bermasalah dengan gender. Tiga bulan pertama saya akan melihat performa kerjanya, kalau memang bagus nanti kami bisa usulkan untuk menjadi karyawan tetap.”

“Baiklah bu… Terima Kasih.”

“Sama-sama Anita, salam untuk keluargamu.”

Kata-kata Anita tadi pagi begitu teriang di telingaku. Melambungkan kerinduanku pada sosok Haris… Haris yang baik? Akh.. Bagiku dia adalah seorang bajingan ulung. Seberapapun tulusnya perasaannya padaku, tidak akan menghapuskan setiap noda yang telah ia torehkan pada diriku. Aku tidak menyesal dengan kematiannya… Ia memang pantas mendapatkannya.

“Aeva…” Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

“Aku antar kamu pulang ya… Sudah lama aku ga main ke rumahmu.”

Dengan bergegas aku merapikan meja kerja dan meraih tasku. Kuikuti langkah Sandy yang berjalan di depanku. Kuraih tangannya dan mengenggamnya. “ Aku harus bisa mencintainya. Dia adalah calon suamiku”

*****

Bersambung

Sebelumnya : Wild – Rahasia Aeva – (#2. Ilusi)

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Puisi dan Prosa. Bookmark the permalink.

4 Responses to Wild – Rahasia Aeva – (#3. Born To Be Wild or Die Hard)

  1. widiagroup says:

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatabase.blogspot.com/

  2. Wonderful job here. I genuinely enjoyed what you had to say. Maintain going simply because you definitely bring a new voice to this subject. Not several men and women would say what youve said and still make it fascinating. Well, at least Im interested. Cant wait to see a lot more of this from you.

  3. Hello,I really like reading via your weblog, I wanted to leave a bit comment to support you and wish you an excellent continuation. Wishing you the most effective of luck for all your blogging efforts.

  4. Tao Okamoto says:

    Im not going to say what every person else has already said, but I do want to comment on your knowledge of the topic. Youre genuinely well-informed. I cant believe how much of this I just wasnt conscious of. Thank you for bringing far more details to this topic for me. Im truly grateful and actually impressed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s