Bukan Siti Nurbaya

Ama20 Oktober 2009

“Wah… Kak Ama cantik banget…” Seru Firda, ketika melihatku keluar dari salon kecantikan. “Emang klo udah jadi penganten auranya berubah ya”  candanya yang aku balas dengan senyum simpul yang dingin.

“Apa kakak yakin dengan keputusan ini? Klo Farah dari awal dah tolak mentah-mentah acara perjodohan itu” Buru Farah yang keluar dari mobil dan menuju ke arahku.

Entah bangaimana rasanya aku membendung air mata ini. Tapi Aku tak mau menodai riasan di wajahku yang hanya akan membeberkan topeng yang sedang aku kenakan ini. Ah.. perkataan mereka tak perlu kutanggapi. Hanya senyuman tipis, untuk menenangkan mereka. Kubiarkan mereka menggandeng kedua tanganku. Setidaknya masih ada yang aku syukuri, kedua adik-adikku ini berada disini. Adik-adik kesayanganku yang sedang mendampingiku saat ini.

*****

Dua bulan sebelumnya

Aku terduduk dan terdiam di ruang tamuku yang berukuran 6×6. Kedua orang tua ku memandangiku dengan serius. Mengharap kalau aku akan membuka mulutku untuk berbicara walau sepatah atau dua patah kata. Tak ada yang perlu diperdebatkankan lagi. Mereka telah ‘memukulku’ dengan telak. Percuma aku berkata-kata, toh semua sudah jelas. Lamaran itu mau tak mau harus aku terima. Bukan karena orang tuaku, bukan pula karena mak comblang yang dulu juga mencomblagi ayah dan bundaku. Tapi karena janjiku tiga tahun yang lalu, bahwa aku tidak akan menolak lamaran dari seorang laki-laki yang seiman dan tak bercacat fisik. Janji kepada Allah yang kusebutkan dengan akal sehat dan disaksikan oleh kedua orang tuaku.

Ah… seandainya aku tidak pernah membuat perjanjian itu, maka aku tidak akan bimbang seperti ini. Lamaran ini bisa saja aku tolak mentah-mentah. Tapi apa lacur, aku sudah terlanjur berjanji dan aku tak ingin mengingkari apalagi janji terhadap yang maha tinggi. Padahal aku masih ingin berkarir. Pernikahan hanya akan menghambat karirku. Terlebih tahun depan aku akan keluar negeri. Aku belum mau terikat, masih ingin bebas. Toh umurku juga masih muda, 23 tahun, walaupun bunda menganggapku sudah layak untuk berumah tangga dan resah karena anak-anak temannya yang seumur denganku sudah memiliki anak.

“Coba kakak ingat-ingat lagi janji kakak lima tahun yang lalu, dan pikirkan dengan matang tentang lamaran ini. Terlebih lamaran ini datang di bulan yang baik dan penuh berkah. Memang kalian belum kenal, tapi cobalah saling mengenal mulai dari sekarang. Terimalah undangannya yang hendak mengajak untuk berbuka puasa bersama”  Ujar ayah ditengah kebisuanku.

Baru kemarin aku dipekernalkan dengan lelaki itu. Diruang tamu ini kami berkenalan. Tak ada sedikitpun rasa tertarikku terhadap dirinya, selain karena secara fisik dan latar belakang dia sangat jauh dari karakter yang aku idamkan, umur kami juga terpaut cukup jauh, 10 tahun. Seandainya pacarku mau bersikap jantan untuk melamarku, maka aku memiliki alasan untuk menolak perkenalan ini. Hal inilah yang membuat orang tuaku berpikir tiada kepastian dan masa depan dengan hubungan kami, sehingga mereka setuju saja jika ada yang ingin mengenalkanku dengan seseorang.

Tak kusangka perkenalan ini memberikan kesan baginya.  Lewat mak comblang dia langsung mengutarakan kesetujuannya dan keinginannya melamarku dalam waktu dekat. Bagai disambar petir aku mendengarnya. Hanya sekali bertemu, dia langsung berkata iya, sedang aku tak ingat pun siapa namanya.

*****

“Maimun.” Jawabnya singkat. “Klo ade panggilannya apa?” Sambungnya lagi.

“Panggil aja Ama.”

Lelaki ini betul-betul pendiam, pikirku. Pembicaraan hampir selalu aku yang memulai dan mendominasi. Ini memang pertama kalinya kami keluar berduaan. Semenjak bertemu di luar restoran, tak banyak kata yang dia ucapkan. Aku memang tidak mengizinkannya untuk menjemputku dirumah. Pertemuan kami terbilang singkat. Aku tiba 30 menit sebelum waktu berbuka puasa, dan pulang lebih awal karena mengejar sholat tarawih. Dia juga kelihatan sangat canggung, seperti baru pertama kali keluar dengan seorang wanita (baru ku kuketahui kemudian ternyata pertemuan ini memang kali pertamanya berta’aruf dengan wanita di luar rumah).

Aku banyak bercerita perihal pekerjaan, cita-cita dan keinginan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri yang berarti harus tinggal berpisah dan berjauhan,  dengan memberi penekanan bahwa aku tak ingin dibatasi dan terikat (maksudku ingin membuatnya mundur dari niatnya melamarku, karena aku tidak mungkin menolak, maka aku ingin membuatnya untuk mundur dengan cara ‘halus’). Tapi ternyata respon yang aku dapatkan malah sebaliknya.

“apapun yang ade lakukan, asal demi kebaikan, abang tidak akan melarang dan membatasi”.

Ya Tuhan… Ternyata orang ini benar-benar sungguh dengan niatnya. Entah dengan cara ‘halus’ apalagi yang bisa aku katakan untuk mengurungkan niatnya. Aku tak mungkin menceritakan tentang hubunganku dengan pacarku, yang berarti secara terang-terangan menolaknya.

“Bagaimana pertemuannya?” Tanya bunda yang menyambutku di depan pintu. Tak bisa kubendung lagi rasanya air mata ini, “Percepat aja terus nikahnya, biar semua cepat selesai. Habis mau gimana lagi? Bunda juga ga mau kan kakak ingkar ma Janji, dia mau pernikahannya dilangsungkan habis lebaran.  ”

“Apa..?!!! Habis lebaran?? Kakak ga sedang merajuk kan bilang gitu?” Seru bunda kaget.

“ Kenapa buru-buru? Kita belum ada persiapan apa-apa. Apa ga sebaiknya kalian tunangan dulu.”

“Dia ga mau bertunangan karena dalam waktu dekat ini kakak akan berangkat ke luar negeri, dia mau langsung nikah aja biar semua ada kejelasan dan kepastian” Ujarku lemah.

*****

Semua persiapan pernikahan dilakukan setelah lebaran oleh kedua orang tuaku, mulai dari tempat akad nikah, pesta, sampai dengan pemilihan baju pengantin dan tetek bengek lainnya. Sedang aku… Aku terus sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanku. Pergi pagi-pagi sekali dan pulang menjelang magrib. Sms dan telepon dari calon suamiku jarang bahkan tak pernah kugubris dan kutanggapi.

Aku justru memikirkan bagaimana cara memberitahukan rencana pernikahan ini pada pacarku yang saat ini sedang menghabiskan liburan puasa dan hari raya di kampungnya. Dia tahu klo aku akan di lamar, tapi dia tidak kuberi tahu kalau rencana pernikahanku yang di percepat. Hatiku telah terlanjur sakit mendengar pengakuannya yang belum siap menikahiku, karena alasan klasik, belum mendapatkan pekerjaan tetap. Ah… Persetan dengan pekerjaan, yang kubutuhkan cuma kepastian klo dia berniat untuk serius denganku, setidaknya untuk menyakinkan kedua orang tuaku. Dan ternyata ia belum punya cukup nyali untuk melakukannya.

Dua minggu menjelang acara, orang tuaku semakin intense mempersiapkan pesta pernikahanku yang tinggal menghitung hari. Dari persiapan kamar pengantin, dekorasi rumah, pelaminan, jumlah undangan, menu hidangan, ah… terlalu kompleks klo aku tuliskan satu persatu. Entah bagaimana cara mereka melakukan semuanya dalam waktu yang singkat begitu. Tapi yang jelas, satu yang kutanggap, orang tuaku benar-benar bahagia dengan pernikahan ini, seolah-olah peristiwa ini adalah hal yang paling mereka nantikan. Tak bisa kulupakan bagaimana senangnya bunda memilihkan perabotan baru untuk kamar pengantinku. Berlebihan memang, tapi itulah bunda yang tak mampu menghilangkan sisi glamornya termasuk untuk pesta pernikahan ini.

“Kak Ama… ada tamu…!” Seru Farah yang memanggilku dari kamar.

“Siapa Far…?” Kelihatan ragu-ragu farah menjawab “Bang Satria.”

Dengan bergegas aku mengenakan kembali jilbabku dan keluar berlari ke teras. Oh… Betapa aku merindukannya, sungguh…  aku sangat merindukannya. Melihat sosoknya yang sedang memarkir Yamaha Scorpio kesayangannya. Rasanya tak kuasa diri ini untuk menumpahkan seluruh rasa sesak di dada.

“Kok murung gitu? Bukannya senang abang datang” Sapanya ditengah kebisuanku. Dia lalu menjulurkan satu kantong plastik yang sudah bisa kutebak apa isinya, ikan asin kegemaranku yang khas dari kampungnya.

Tak terbilang rasa yang berkecamuk dalam diri ini. Ya Tuhan… Bagaimana caraku menceritakan acara pernikahan ini? Mengapa dia tiba-tiba datang seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Tak tahukah dia betapa dia telah sangat mengecewakanku? Tak tahukah dia betapa aku membutuhkannya saat ini?

“Jadi, ga dipersilahkan masuk ne?” Bisiknya, membuyarkan lamunanku. “atau mau abang ajak jalan-jalan, kayaknya dah rapi dan cantik banget”

“Ama baru pulang, tadi ke pasar dengan bunda.” Jawabku sekaligus mempersilahkan dia masuk.

“Hm… kok kayaknya ada yang lain dengan dekorasi rumah ini”.

Setelah berbasa-basi dengan orang tua dan adik-adikku, dia lalu menghampiriku.

“Memang tadi kemana aja dengan bunda?” Tanyanya setelah kupersilahkan dia duduk.

“Ke toko perabot” Tanpa memberi kesempatan untuknya bertanya lebih lanjut, aku langsung balik bertanya maksud kedatangannya.

“Kok ga bilang-bilang mau mampir? Memang kapan balik dari Nagan (Nama kabupaten di Provinsi Aceh)?”   Tanyaku jutek.

“Tadi malam. Sengaja mau kasih kejutan. Sekaligus abang mau mendengar cerita langsung tentang pembicaraan kita yang sempat terputus lewat telepon  beberapa waktu yang lalu. ” Suasana menjadi  hening seketika.

“Maksudnya apa? Bukankah abang sudah mengambil sikap klo abang belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini. Jadi ga ada yang perlu dibahas lagi.” (Ah… mengapa mulut ini menjadi tak terkontrol seperti ini)

“Abang akui telah menggantung Ama selama tiga tahun ini, tapi mohon pengertiannya. Bukan tak ada niat untuk melamar, tapi kan tidak segampang itu untuk malamar anak orang, bukan perinsip abang mengharapkan bantuan dari orang tua untuk menikah. Ama tau sendiri kan abang baru aja selesai kuliah dan lagi dalam proses mencari pekerjaan. Abang serius dengan hubungan ini dan sangat ingin berumah tangga dengan Ama.”

“Sebenarnya beberapa waktu yang lalu abang ikut tes pegawai di bank **** dan abang sudah berniat, kalau lulus nanti, abang akan mengajak orang tua abang untuk melamar Ama.  Sebenarnya abang maunya ini menjadi rahasia dulu. hehe“ lanjutnya lagi.

“Kemarin pengumumannya, dan ternyata abang lulus, makanya langsung kesini ingin berbicara langsung dengan Ama, dan semoga abang belum terlambat.”

Tersentak aku mendengar pengakuannya. Bukan jawaban ini yang kuharapkan. Ini tak seperti yang kubayangkan. Mengapa kemarin-kemarin dia tidak menjelaskan ini. Mengapa harus ada rahasia. Tiga tahun belakangan ini tak ada pun keseriusannya untuk membahas masalah pernikahan. Bahkan sempat tepikir olehku kalau dia sebenarnya tidak mencintaiku dan tidak ingin serius denganku.

“Lho… Kok diam” Ujarnya ditengah kebingunganku.

“Percuma… Sudah terlambat” Ujarku lirih.

“Lamaran sudah dilaksanakan. Tanggal 20 nanti Ama akan menikah” Lanjutku tanpa bisa membendung lagi air mata yang mengalir dipipi ini.

Aku tau ini tak adil untuknya, apalagi untukku. Pikiranku kosong… Hampa… Oh Tuhan… Mengapa jadi seperti ini. Mengapa dia tidak mengatakan niat itu sebelumnya dan mengapa hanya karena kesal dan merajuk aku jadi terburu-buru mengambil keputusan untuk menerima lamaran itu. Rasanya aku tak sanggup berkata-kata karena air mata sekali ini lagi telah membisukanku di ruang tamuku ini.

*****

“Sudahlah Ama… Jangan menangis gitu ah, jadi jelek tuh.” Candanya saat ku mengantarnya ke teras.

Ah… bisa-bisanya dia bercanda disaat seperti ini.

“Boleh Ama bertanya sesuatu? Dan kali ini Ama mau abang jujur.” Tanyaku serius.

“Sebenarnya bagaimana sih perasaan abang terhadap Ama? Selama ini tak pernah pun abang terbuka tentang perasaan…” Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, dia langsung meraih lenganku dan mengecup keningku.

“Ini adalah bukti perasaan cinta abang, jangan pernah pertanyakan lagi, semoga ini kecupan pertama di kening Ama. Maaf kalau abang lancang” Ujarnya lirih.

Oh… Betapa kaget aku dibuatnya. Dia memang selalu memberiku kejutan, tapi kali ini sudah keterlaluan. Mengapa dia harus meninggalkan jejaknya di keningku dan sorot mata kesedihan itu baru pertama kali aku melihatnya. Tak tahukah dia, itu semua akan membuatku semakin susah untuk melupakannya.

“Abang pulang dulu ya, selamat untuk pernikahannya. Kamu pasti cantik sekali. Maaf kalau abang tidak bisa hadir karena sejujurnya abang ga begitu tegar untuk melihat kamu mengenakan gaun pengantin cut nyak dhien dan bersanding dengan orang lain.” Itu adalah pertemuan dan kata-kata terakhir  yang diucapkannya sebelum pernikahanku. Dia berlalu, pergi meninggalkanku ditengah kebimbangan dan rasa hampa dalam hati.

*****

Butiran bening di pelupuk mata ini sudah terlalu berat untuk ditahan. Hancurlah sudah topeng  yang tengah kukenakan. Tak ada keberanian dariku untuk menatap suamiku setelah ijab kabul itu dilaksanakan, apalagi memandangi ayahku yang sedang mengharu biru. Saat ini aku sedang terisak dan larut dalam perasaanku sendiri. Ya Allah… Demi janjiku padamu, telah kupersembahkan hidupku untuknya sejak hari ini, lelaki yang baru sebulan yang lalu kukenal.  Ujarku dalam hati.

Pesta pernikahan berlangsung meriah, tak kurang dari 1500 tamu undangan yang hadir menyelamatiku. Kulihat raut wajah kedua orang tuaku yang tampak sangat bahagia karena telah menunaikan tanggung jawab terbesarnya untukku, anak gadis tertuanya.  Sebaliknya, tampak sekali wajah keterkejutan sahabat-sahabatku yang datang karena melihatku bersanding di pelaminan dengan seseorang yang tidak mereka kenal. “kutunggu cerita selengkapnya waktu arisan nanti ya…” Bisik Rina saat menyelamatiku, sebelum berlalu pergi bersama sahabat-sabahatku yang lain.

Ah… Rina, sahabatku, maafkan aku klo ini telah mengejutkanmu, tapi aku terlalu larut dengan perasaanku sendiri, sehingga aku tak sempat menceritakannya kepadamu. Mungkinpun karena aku sengaja tak ingin membicarakannya karena nasehat dan pendapat kalian hanya akan membuatku bertambah ragu dan gusar.

Dipelaminan ini kami bagaikan orang asing, tak ada kata yang terucap selain kata-kata terima kasih untuk tamu undangan. Segala macam upacara adat juga dilakukan sekedarnya tanpa komunikasi terlebih dahulu, hanya ada komando dari sesepuh adat dan orang tua kampung. Lelah dan capai sih, tapi aku terus menunjukkan wajah ceriaku seolah-olah ini adalah hariku, hari bahagiaku.

“Kak Ama, kata bunda udah boleh istirahat di kamar, tamu-tamu juga dah ga banyak lagi” Ujar firda yang kemudian membantuku naik ke kamar pengantinku.

“Kak… Firda segan lah ma suami kakak” bisik firda di telingaku.

Adikku yang satu ini emang kadang ga diduga-duga, pertanyaannya memang wajar, karena diapun sesungguhnya belum terlalu kenal dengan abang iparnya itu.

“ntar juga terbiasa, orangnya emang agak pendiam.” Balasku tersenyum.

Wangi melati tercium menusuk sekali saat aku naik ke kamarku yang terpisah dari rumah utama. Kamar-kamar dilantai dua yang terdiri dari ruang belajar, kamar tidur dan kamar mandi telah banyak di renovasi. Sebelumnya, tidak ada yang menempati kamar di lantai dua sejak selesai dibangun dua tahun yang lalu. Kami semua memilih untuk tidur di rumah utama, selain karena agak terpisah dan tangganya terdapat digarasi, adik-adik dan abangku pun malas kalau setiap hari harus turun tangga. Jadilah kamar-kamar ini terbengkalai. Sejak memutuskan menikah, aku sendiri yang meminta pada bunda untuk menempati kamar tersebut, karena tak ingin bunda pindah dari kamar utamanya.

Memang sudah menjadi adat disini kalau pasangan yang baru menikah akan tinggal dulu sementara di rumah dara baroe (pengantin perempuan) sampai nanti mereka punya rumah sendiri. Karena itu bunda benar-benar menyiapkan kamar pengantinku semaksimal mungkin.

Untuk dekorasi dan pemilihan perabotan, kuserahkan sepenuhnya kepada bunda, firda, dan farah. Sedari awal aku tidak banyak ikut campur dengan persiapan pernikahaan ini. Selain karena aku sibuk bekerja, akupun sedang mempersiapkan diri untuk kuliah lagi, yang berarti harus mengikuti serangkaian tes dan pelatihan pemantapan bahasa Inggris.

Di ruangan belajar hanya terdapat sebuah sofa panjang dan ambal tebal yang menutupi lantai keramik. Ruangan yang berukuran 4×4 ini masih terlihat kosong, belum ada buku-buku, apalagi meja dan kursi belajar, karena aku belum sempat memindahkannya dari kamarku. Hanya ada sebuah dispenser beserta galonnya dan beberapa gelas minum di atas meja kecil berukuran 60×60 cm disudut ruangan sebelah kiri. Ini pasti meja yang terdapat disudut ruang tamu yang dipindahkan kesini, pikirku. Diruangan ini juga terdapat pintu yang menuju ke kamar tidur yang kosennya telah dihias dengan bunga-bunga hidup, bunga-bunga itu didominasi oleh melati dan mawar yang berwarna merah dan pink dan terlihat masih segar karena dekorasi baru dilakukan tadi pagi, saat aku masih di salon.

Kamar tidur yang berukuran hampir sama dengan ruang tamuku ini juga tak lupur dari tangan bunda. Tempat tidur, lemari, dan meja rias semuanya terbuat dari kayu jepara asli. Kepala tempat tidur juga didekorasi dengan bunga-bunga hidup. Wangi melati dan sedap malam terasa sangat menusuk di kamar ini, belum lagi perpaduannya dengan aroma kayu jepara yang memberikan nuansa tersendiri. Kulihat ada sisa kelopak bunga yang berjatuhan di lantai dan tempat tidur. Tamu-tamu yang datang melihat kamar ini mungkin tak kuasa juga untuk menjamah atau mencium bunga-bunga yang begitu menggoda ini. Hm… kalau gorden, ini pasti pilihannya farah karena berwarna cream dan peach, warna kesukaannya.

Ah… akhirnya bisa menyendiri juga dari keramaian. Baju pengantin dan segala pernak perniknya sudah sangat membuatku gerah. Belum lagi assessoris yang berat di kepalaku, sungguh membuatku pusing.  Menjadi pengantin itu melelahkan juga. Tak sabar rasanya untuk merebahkan tubuhku diatas ranjang yang besar ini.

“dek… kamar mandinya mana, abang mau sholat dzuhur”. Perkataan suamiku membuyarkan lamunanku.

Astagfirullah, aku baru sadar kalau aku tidak sendirian di dalam kamar ini. Dengan sigap dan buru-buru aku kancingkan kembali baju pengantinku. Dia hanya memandangiku dengan lugu sambil tersenyum. “Mau abang bantu bukain?” ujarnya. Aku tau dia cuma ingin menggodaku, tapi kenapa aku jadi tersipu malu? Akh… masa bodoh… yang penting aku segera bebas dari pakaian yang menyesakkan ini. Ada pulak ni baju pake acara nyangkut dengan Simplah (perhiasan dada yang terbuat dari perak yang pemakaiannya dengan digantungkan pada kedua pundak dengan cara menyilang dibagian dada dan punggung). Aaarrghhh…

“Sini… abang bantu bukain hiasan kepalanya” Kali ini kuterima saja bantuannya yang ingin membantu membuka culok ok (tusuk sanggul yang menyerupai bunga cempaka) dan ceukam sanggoy (tusuk sanggul yang menyerupai bunga tanjung Sembilan tingkat). Harus sabar memang, salah-salah bisa nyangkut di rambut dan melukai kulit kepalaku. Menyesal juga tadi tak kuajak Firda mengantarku sampai kekamar, kan dia bisa membantuku.

Kupandangi tangan suamiku yang sedang membuka hiasan dikepalaku satu persatu dari cermin meja rias. Ia terlihat begitu telaten melakukannya. Dengan sabar ia mencari jarum pentul dan membuka peniti agar tak menusuk kulit kepalaku.

Setelah selesai kukibaskan rambut panjangku. Kepalaku terasa lebih ringan sekarang. Kulirik suamiku yang berjarak hanya beberapa centimenter dariku. Kedekatan ini sungguh tak mengenakkan. Aku tak kuasa untuk menatap dirinya, entah karena malu, entah karena asing, entahlah… Ku palingkan wajahku dari tatapan dan matanya. Aku tau aku berdosa, dan kesehajaannya makin membuat aku merasa bersalah.  Istri macam apa aku ini yang menolak tangan suami yang hendak menyentuhku.

****

Malam itu pertama kalinya aku merasa bengitu canggung di rumah sendiri. Betapa malunya aku ketika  aku tak bisa menjawab pertanyaan dari sepupuku yang bertanya tentang pekerjaan suamiku. Yang sekali lagi menunjukkan betapa aku terlalu cuek dan terkesan tak perduli terhadap suami. Belum lagi keluarga besarku yang sengaja menggodaku di depan suamiku. Ah… rasanya aku ingin cepat-cepat saja menyelesaikan makan malam ini. Disisi lain suamiku kelihatan sangat tenang dan cenderung cepat beradaptasi dengan suasana di keluargaku. Dengan mudahnya ia bergaul dengan abang dan adik-adikku dan dengan saudara-saudara baik dari pihak bunda dan ayahku. Kuakui sikapnya yang dewasa dan ramah membuatnya mudah diterima dikeluargaku. Terkadang juga ia menanggapi gurauan dan joke dari adik-adikku. Ah, ternyata ia tak sependiam yang kubanyangkan.

Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan… Rasanya aku ingin segera terlelap. Dikamar pengantin ini aroma melati masih tercium. Tapi sekali lagi, wangi melati ini juga tak mampu menggodaku, apalagi melunakkan hatiku. Pikiranku terlanjur bercabang mendapati sms yang baru saja masuk dari Satria yang berisi ucapan selamat. Dari jendela kamar yang menghadap teras kulihat suamiku sedang asik bercengkrama dengan pak cik dan tetanggaku.

Kuambil HP dan kupaksakan diri untuk meneleponnya. Sekali… Tak diangkat. Ah… Jangan-jangan dia sudah tidur, pikirku. Tak puas, aku mengulang kembali untuk menekan tombol yang berwarna hijau tersebut. Tak juga diangkat. Tak biasanya begini, ia pasti selalu mengangkat telpon dariku meski sudah tertidur. Kucoba sekali lagi, tetap tak diangkat. Ada apa gerangan, apa dia marah?

“Kamu sudah sholat dek?”

BRAK..!!!

HP ku terjatuh, pertanyaan suamiku yang muncul tiba-tiba mengagetkanku. Sejak kapan dia ada disini, pikirku.

“eh… kaget ya, maaf ya” Ujarnya.

HP itu langsung kupungut kembali sebelum ia mengambilnya. Dengan keheranan ia melihat tingkahku dan menghela nafas panjang.

“abang mau sholat, mau berjama’ah?” tanyanya.

“Ama sudah sholat tadi” Balasku cepat.

Kupandangi punggung suamiku yang berjalan menuju kamar mandi. Selang beberapa saat, masuk sms dari Satria. Dengan keheranan aku membaca isi smsnya, kucermati kata per kata seolah tak percaya dengan apa yang ditulisnya

“JANGAN HUBUNGI AKU LAGI….!!! KAMU TIDAK SETIA”

Astagfirullah, kasar sekali… belum pernah ia sekasar ini. Sms ini apakah memang dia yang mengetik? Tapi mengapa? Sedih sekali rasanya mendapati reaksinya yang seperti itu. Apa ini memang salahku? Ah… aku tak sanggup memikirkannya lagi, lelah sudah rasanya, kepalaku juga terasa sangat berat. Sudah beberapa malam aku tidak nyenyak tidur.

Kubaringkan tubuhku… Aku ingin secepatnya terlelap. Pasti besok semua akan baik-baik lagi. Besok aku akan mencari waktu menghubunginya meski sembunyi-sembunyi. Dengan mata yang sembab dan air mata yang terus mengalir, aku paksakan diriku untuk terlelap.

Duhai sayangku

Apa gerangan yang terjadi denganmu

Mengapa kau benci padaku

Apakah ini memang salahku?

Sungguh takdir begitu kejam padaku

Ataukah ia sengaja ingin menertawakan dan mengejekku?

Taukah kau betapa ku merindukanmu
Sapaan mesramu, suaramu, canda dan gurauanmu

Semua masih terukir dibenakku

Ah… Kenapa air mata ini ini terus membasahi pipiku

*****

Oh… tangan siapakah ini yang sedang membelaiku? Ah, nyamannya. Teringat ayah dulu selalu memeluk dan membelaiku saat aku sedang sakit, tapi itu dulu… dulu sekali… Aku merindukan pelukan ayah yang dulu itu. Terdengar sayup-sayup suara asing. Suara siapa ini? setengah sadar kubuka mataku, terlihat sosok yang sangat asing sedang membelai rambutku.

“sayang… ayo bangun… sudah subuh”

Akh… Astagfirullah. Tersentak aku dari tidurku. Dengan bergegas aku bangun. Masih di atas tempat tidur, kupandangi suamiku yang keheranan dan kebingungan melihat sikapku.

“Sudah berapa lama Ama tidur? Sudah subuh ya?” Ujarku yang masih tak percaya dengan semua ini. Aneh sekali rasanya seranjang dengan orang asing yang kini jadi suamiku. Sejak MTSN dulu aku sudah tidur sendirian dan terbiasa sendirian dikamar. Kupandangi bajuku dalam selimut. Masih utuh.

Akh kacau banget pikiranku. Memang ini cerita sinetron apa? Sungutku dalam hati.

“Setelah shalat Insya semalam, abang lihat ade sudah terlelap. Sengaja ga abang bangunin, kelihatannya ade capek banget.” Ujarnya.

“ade cantik banget saat tertidur… abang suka lihatnya.” Dengan perlahan ia mendekat dan meraih tanganku, dan lagi-lagi secara refleks aku menepis tangannya.

“Akh… Ama wudhu dulu ya, yar kita bisa berjama’ah.” Dengan bergegas aku bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Jantungku serasa mau copot saja. Kusiram wajahku dengan air dingin agar lebih menyadarkanku.

“Ya Tuhan… kok aku jadi kayak gini sih, kenapa aku menghindari suami sendiri.

Bodoh… Bodoh… Bodoh…” Sungutku dalam hati.

*****

“Kapan rencana ade berangkat?”

“Masih menunggu surat sponsor dari pemda untuk pengurusan visa, mungkin awal tahun depan. Masih tiga bulan lagi. “ Jawabku. Sambil melipat mukena dan sajadah.

“wah… abang berharap kepergian ade ditunda, hehe “

Aku tahu mungkin maksudnya bercanda. Tapi entah mengapa aku tak terlalu senang mendengarnya. Melanjutkan kuliah di negeri kangguru adalah keinginanku dan cita-citaku sejak dulu. Apapun yang terjadi aku harus berangkat. Toh, sebelum menikah juga aku telah telah membahasnya, walau cuma secara lisan, aku ingin dia tetap memegang janjinya untuk tidak menghalangiku meraih masa depanku.

“Yah… kita lihat aja ntar, semoga pengurusan visanya lancar. “ Jawabku enteng dan beranjak bangun dari tempat shalatku, menuju ke kamar tidur.

Terlihat HPku yang telah terletak di atas meja rias. Seingatku semalam aku tertidur sambil menggenggam HP, sejak kapan berpindah ke meja itu. Akh… jangan-jangan…

Dengan bergegas aku mengambil HP itu.  Apa dia membacanya. Apa dia mengutak atik HP ku. Akh… Menyesal sekali aku tidak menghapus semua sms dari Satria yang dari dulu kusimpan di inbox. Apa yang suamiku pikirkan ketika membaca sms dari Satria? Kulihat ada panggilan masuk, Satria, jam 01.03. Aku cek kembali daftar panggilan masuk, Satria, jam 01.00. Apa dia mengangkat teleponnya?

“Tadi malam ada yang telepon, tapi kayaknya cuma miscall.” Ujar suamiku yang entah sejak kapan telah berdiri dibelakangku.

Aku benci dengan kesunyian dan keheningan ini. Mengapa dia tidak mengatakan sesuatu? Atau mungkin aku saja yang berpikiran terlalu jauh. Kulihat dia telah naik ke atas tempat tidur kami. Masih terlalu pagi untuk keluar dari kamar sekarang, orang tuaku pun pasti curiga kalau aku turun subuh-subuh begini.

Kulirik suamiku di tempat tidur, dia masih memandangiku yang mematung di depan meja rias. Aduh… mengapa aku jadi salah tingkah begini.

“Sini duduk disisi abang.”

Kuturuti aja keinginannya. Kutarik selimut menutupi kakiku, udara dingin masih terasa, walaupun AC tadi sudah kumatikan.

Dengan berat ia mengambil nafas panjang.

“Tak mengapa klo Ama belum siap untuk melakukannya, abang pun tak akan memaksa. Tapi tolong jangan menghindari abang dan menghalangi abang untuk menunjukkan kasih sayang abang, kita memang baru berkenalan, tapi tak salah kan kalau mulai dari sekarang kita saling mengenal.”

Kali ini ia tak lagi memandangi wajahku. Justru aku yang keherenan mendengar pernyataannya. Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Kucari matanya, dan kulihat kesungguhannya atas ucapannya itu.

“ Terima kasih atas pengertiannya.” Jawabku datar.

“Berapa hari ade dapat izin cuti?”

“Hari senin mulai kerja lagi. Jadi masih ada libur lima hari”

“Setelah sarapan nanti, minta izin sama ayah dan bunda, abang mau ajak ade ke rumah abang. Abang mau memperkenalkan ade dengan keluarga besar abang di kampung. Ade juga belum kenal dengan mamak abang, kan?”

“Kemarin tidak abang perkenalkan waktu acara foto-foto dengan keluarga abang, Ama sudah lupa wajahnya” Jawabku enteng.

“Mamak abang kemarin ga datang, di kampung abang jarang orang tua datang ke acara pesta, termasuk pesta anaknya. Tapi kemarin ayah abang ada ikut.” Dengan nafas yang berat ia lalu melanjutkan.

“Sebenarnya kemarin abang menunggu ade bertanya, yang mana orang tua abang, tapi mungkin ade terlalu capek sampai lupa menanyakannya.”

Astaga, betapa kagetnya aku mendengar pernyataannya itu. Apa sudah demikian acuhkah aku hari itu sampai tak terpikir olehku untuk bertanya tentang orang tuanya. Apa sebegitu tidak perhatiannya aku terhadap keluarganya? Oh.. Mengapa hal ini baru kusadari sekarang?

“Sebelum ade berangkat, abang mau ade juga kenal dengan keluarga abang. Walaupun kita tinggal disini, ade mau kan tinggal satu malam saja dirumah abang?” pintanya padaku.

Kuanggukan kepala tanda kesetujuanku.

*****

Beuraden adalah nama suatu gampong (kampung) di kecamatan peukan bada, kabupaten Aceh Besar. Kampung dimana suamiku lahir dan dibesarkan. Meskipun lokasinya tak jauh dari ibu kota Banda Aceh, aku sendiri belum pernah mendengar nama kampung itu sebelumnya.

Perjalanan menuju kesana memakan waktu kurang lebih 20 menit dengan sepeda motor dari rumahku. Lumayan dekat memang, aku sendiri heran mengapa aku tidak ngeh, padahal kampung itu sering kulalui ketika mengunjungi pantai Lhok’nga dan Lampu’uk. Dua pantai terkenal yang menjadi objek wisata bahari di provinsi Aceh.

Waktu musibah besar  tahun 2004 silam, kampung ini merupakan salah satu kawasan yang paling parah terkena tsunami. Menurut cerita suamiku, dari sekitar 300 KK yang mendiami kampung Beuraden, hanya tersisa 50 orang saja. Keluarga inti suami ku masih terselamatkan, walaupun mereka harus berkejar-kejaran dengan gelombang. Beberapa diantaranya bahkan sempat bertempur dengan amukan air yang maha dahsyat tersebut. Banyak saudara dari pihak dan ayah dan ibunya yang tinggal di kawasan tersebut yang menjadi korban.

Untuk pertama kalinya aku diboncengin oleh suamiku dengan sepeda motornya. Terasa agak kikuk memang, tapi kelihatannya dia juga begitu. Dia melarangku memegang paha atau memeluk pinggangnya, ga terbiasa katanya. Dari pada ntar tidak konsen dijalan, yah, aku turuti saja permintaannya.

Teringat dulu pernah suatu kali aku nebeng (dibonceng) oleh Satria dengan motor Yamaha Scorpionya. Hanya sekali, itupun terjadi diluar pengawasan ayahku. Ayah memang orang yang sangat strict dengan pergaulan anak gadisnya. Baik aku dan adik-adik perempuanku dilarang keras untuk berboncengan dengan lelaki yang bukan muhrim, apalagi keluar berdua-duaan. Setahun yang lalu, entah godaan apa yang menghampiriku, sehingga aku mau saja menerima ajakannya yang hendak mengajakku jalan-jalan.

Waktu dia menjemputku di kantor. Saat bersama dengannya, terus terang perasaanku campur aduk, antara senang dan tidak tenang. Aku khawatir klo tiba-tiba ayah, abang, atau adik-adikku memergoki kami di jalan. Sungguh perasaan itu tak mengenakan. Di atas sepeda motor, aku duduk berjarak dengannya, kuselipkan tas diantara punggungnya dan badanku agar kami tak bersentuhan. Tindakan itu justru mengundang protes darinya. Dia baru mengerti setelah aku menjelaskan perinsipku, dan dia memakluminya. Setelah berkeliling, dia mengantarkanku kembali ke kantor. Aku kemudian pulang dengan mobilku sendiri, seolah-olah kami pulang masing-masing. Sampai sekarang cerita ini masih menjadi rahasia kecil kami. Ah.. jadi senyum sendiri klo mengingatnya. Satria… Lagi apakah dia sekarang? Padahal hari ini aku ingin meneleponnya.

Ya ampun… Apa yang sedang ku pikirkan ini, tak sadarkah aku sekarang sedang bersama siapa? Kubuang jauh-jauh pikiranku tentang Satria. Kupandangi punggung suamiku yang berada didepanku ini. Punggung yang bidang.

Ah… Aku ingin menyentuhnya. Aroma parfumnya begitu menggodaku. Aku tak tahu parfum apa yang dia pakai. Aku memang belum sempat membongkar isi tasnya yang dibawa oleh saudaranya kemarin malam setelah pesta. Tas itu lebih mirip tas kantor, yang sepertinya cuma berisi dua pasang baju dan celana.

*****

SELAMAT DATANG DI DESA BEURADEN

Gapura yang menjadi petunjuk nama kampung ini sangat unik, letaknya pas didekat sebuah pohon besar yang membuatnya kadang luput dari pandangan mata. Jalanan kampung sudah diaspal, tak seperti bayanganku sebelumnya. Menurut suamiku, baru setelah tsunami jalan tersebut diaspal untuk kemudahan distribusi bantuan.

Perjalanan kami berhenti dihalaman sebuah rumah. Rumah yang menurutku lebih mirip dengan rumah peninggalan zaman Belanda. Rumah panggung semi-permanen yang kelihatan sudah sangat tua tapi keperkasaannya masih memancarkan pesona tersendiri. Dari luar terlihat rumah seperti terbagi menjadi dua bagian. Bagian atas adalah seuramo (tempat menerima tamu) dan bagian bawah yang merupakan dapur. Kedua ruangan ini dipisahkan oleh beberapa anak tangga.

Dari dalam rumah kudengar sayup-sayup suara yang menyebut namaku. Dinding kayu ini memang tidak bisa berbicara, tapi suara-suara di dalam rumah terdengar begitu jelas. Ramai sekali… ada suara tangisan anak-anak juga. Kulihat ada seorang gadis membuka pintu depan.

Walaikumsalam” ujarnya, menjawab salamku. Aku tak bisa lupa dengan gadis ini. Di pesta kemarin dia kelihatan paling sibuk mengatur keluarga suamiku yang ingin berfoto denganku.

Kuserahkan bungkusan berisi kue Meusekat titipan bunda kepadanya.

Namanya Layla, si bungsu yang lebih tua beberapa bulan dariku. Tapi kini dia harus memanggilku dengan sebutan kakak. Perawakannya kecil, tingginya hanya 155 cm. Lebih pendek 5 cm dari suamiku.

Suamiku merupakan anak ketiga. Abangnya Sofyan, merupakan menantu Mak Wa, orang yang menjodohkanku. Sebelum menikah dulu, Ida, istrinya sering main kerumah ku karena masih sepupu bunda. Baru kuketahui kemudian ternyata ide perjodohan ini datang darinya yang ia sampaikan lewat Mak Wa.

Seorang wanita paruh baya lalu datang menghampiriku. Kupikir dia adalah mamak suamiku, tapi kenyataannya memperkenalkan diri sebagai kakaknya. Namanya Wasti, umurnya hampir sama dengan bunda. Orangnya ramah dan keibuan. Kalau berbicara kental sekali logat Aceh Besar nya. Terkadang aku tak begitu paham apa yang mereka bicarakan. Aku memang tidak begitu pandai berbahasa Aceh. Adik-adik suamiku berjumlah 6 orang. Kecuali Layla, yang lain adalah laki-laki. Tak satupun adiknya yang laki-laki terlihat. “laki-laki mana ada yang betah dirumah, kak” Ujar Layla menjawab pertanyaanku.

Tak lama berselang, aku ditinggalkan diruang tamu berdua saja dengan suamiku. Ruangan ini sangat sederhana, berukuran 3×6 meter dan hanya beralaskan tikar. Tak ada pajangan foto keluarga. Yang ada hanya sebuah kaligrafi ayat kursi yang dibingkai kaca dan bunga plastik yang menggantung di dinding kayu. Bentuknya sudah sangat usang dan kelihatan berdebu. Disudut ruangan terdapat sebuah meja yang diatasnya terdapat tumpukan kain yang terlipat rapi. Sebuah setrika terlihat diantara tumpukannya.

Dinding kayu yang kokoh mulai terlikat lapuk dibeberapa bagian. Tak sengaja kulihat ada rombongan rayap yang mengintipku dan berhasil membuat aku membencinya. Dinding dibawah kayu yang telah melepuh dan terkelupas terlihat hampir di seluruh bagian rumah. Pemandangan yang sama kuperhatikan di luar tadi. Aneh, karena kuperhatikan bentuknya seperti rembesan air, tapi kering. Aku sampai enggan untuk bersandar.

Waktu tsunami dulu, air di dalam rumah ini hampir mencapai 4 meter, rumah ini masih utuh karena air yang datang sudah pecah oleh perbukitan di belakang rumah yang jaraknya hanya beberapa meter. Tapi akibat terlalu lama terendam oleh air tsunami, menyebabkan lapisan temboknya terkikis, walaupun sudah diperbaiki, temboknya akan kembali lagi seperti itu, seolah-olah dia melepuh dengan sendirinya. Bukan hanya rumah abang, rumah-rumah lain disekitar sini juga begitu, kecuali rumah baru yang baru dibuat setelah tsunami. Begitulah penjelasan suamiku tentang rumahnya ini.

Kak Ida kemudian muncul membawakan dua gelas air syrup berwarna merah dan beberapa potong kue bolu dan agar-agar.

“Mari Ama silahkan diminum” ujarnya. “Nanti malam tidur disini kan?” Tanyanya lagi.

“Iya kak.”

“Kakak sore ini balik Ke Takengon (Nama daerah di kabupaten Aceh Tengah). Kasihan Anis  klo terlalu lama ga sekolah.”

Anis adalah anak bungsu kak Ida. Umurnya masih 7 tahun. Memang setelah menikah dia tinggal dengan suaminya di Takengon. Kebetulan suaminya sudah jadi guru MIN disana. Hanya sesekali dia pulang ke Beuraden, itupun klo ada acara atau lebaran. Mungkin karena sesama menantu kami kelihatan cepat akrab.

“Mamak mana kak?” Tanyaku kemudian.

“ Ada di dapur. Lagi masak. Karena tau Ama akan datang, mamak seperti buat kenduri aja, pagi-pagi tadi kak Wasti sudah belanja dan potong ayam.”

Tak kusangka kedatanganku telah membuat repot keluarga ini.

“Biasa itu Ama, kakak dulu gitu, orang kampung emang begitu kalau pertama menyambut menantu. Nanti lama-lama juga kalau Ama kesini, turunnya kedapur juga” jelasnya lagi.

Suamiku kemudian minta diri untuk sholat dzuhur ke Mushalla didekat rumah. Tinggalah kini aku berdua saja dengan kak Ida diruangan ini.

“Gimana malam pertama kalian?” Tanyanya tiba-tiba.

Hampir saja air yang sedang aku minum ini menyembur keluar. Aku tak menyangka akan diserang dengan pertanyaan yang diluar ‘zona nyaman’ ku ini. Kusenyumi saja dia, mudah-mudahan dia mengerti kalau aku sedang tak ingin membahasnya.

“Kalian memang baru kenal, tapi kakak jamin tak butuh waktu lama bagi kalian untuk saling kenal satu sama lain. Dulu kakak juga dijodohkan, dan kami menikmati nikmatnya pacaran setelah menikah.”

“Maimun lelaki yang baik, walaupun cuma adik ipar, dia sudah kakak anggap seperti adik sendiri.”

“ Beberapa waktu yang lalu dia meminta kakak untuk mencarikan calon istri untuknya. Karena dia tidak pernah dekat dengan seorang wanitapun. Beberapa orang teman dekat dan saudara  juga sudah mengenalkan dengan beberapa dara (anak perawan), tapi tak satupun yang kena dihatinya. Waktu kakak cerita dengan mamak kakak (Mak Wa), langsung kepikiran Ama karena sebelumnya bunda dan ayah Ama ada minta sama Mak Wa untuk mencarikan jodoh untuk Ama.”

Aku jadi semakin tertarik untuk mendegarkan cerita tentang suamiku ini lebih jauh.

“Tau tidak, gimana reaksi Maimun waktu pertama ke rumah Ama?” Pertanyaannya yang tak perlu kutanggapi ini langsung dijawabnya cepat.

“Dia langsung minta pulang waktu masuk ke pekarangan rumah Ama, memandangi rumah yang begitu besar, menyiutkan nyalinya. hehe

Tapi mak wa bersikeras. “Kenal dulu dengan orangnya, masalah diterima atau tidak bukan perkara” dan ternyata setelah pertemuan itu, dia langsung jatuh hati dengan Ama.”

“Ama percaya tidak, kalau berjodoh itu semua perkara akan terasa ringan dan dimudahkan, seolah tak ada yang menghambat.” Lanjutnya lagi.

“Iya kak” Jawabku singkat.

“Latar belakang kalian memang berbeda, Ama yang dari lahir tak pernah hidup susah mungkin ga terbiasa tinggal di kampung dengan rumah begini, bukan? Ama pasti terkejut waktu datang ke sini, kan?”

“Ga ah… Biasa aja.” Jawabku bohong. Entah kenapa aku mulai merasa agak risih bicara dengan dia lama-lama. Seolah-olah dia bisa membaca hatiku.

“Baguslah kalau gitu. Kalau harta kan bisa dicari, yang penting itu kalian bahagia.”

“Walaupun masih honor, kakak yakin dia bisa membahagiakan Ama.”

Apa…..?! Kali ini aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang aku dengar ini.  Belum habis rasa terkejutku mendengar tentang asal muasal perjodohan kami, aku kembali harus menerima kenyataan bahwa suamiku hanya seorang pegawai honorer.

“Memang kerja dimana?”

“Eh… Maimun belum kasih tau ya?”

“Dia kerja di biro keistemawaan Aceh, bagian penyaluran bantuan untuk pembangunan Mesjid. Jadi sesekali dia sering pergi keluar daerah untuk pendistribusian bantuan. Hidupnya memang ga jauh-jauh dari rumah dan mesjid. Kamu beruntung mendapatkan suami seperti itu.”

Aku terdiam seribu bahasa. Ini jauh sekali dari yang kupikirkan. Memang kuakui selama ini aku terlalu cuek untuk menanyakan masalah suamiku termasuk pekerjaannya. Tapi mendengar ini semua dari kakak iparku ini sungguh menyesakkan dadaku. Apalagi ini semua jauh dari yang kuharapkan. Sangat jauh bahkan.

*****

Makan siang telah disajikan di depanku, dua talam besar berisi penuh makanan. Ada sebakul nasi, rendang, ayam kampung goreng, telur asin, balado udang, kerupuk emping, dan gulai batang pisang yang katanya khas dari kampung ini. Hanya ada dua piring nasi dan dua gelas air putih. Mengapa hanya dua? Apa yang lain tidak ikut makan?

“Ayo kita makan.” Ajak suamiku.

“Kok cuma kita?”

“Mereka makan di dapur, biar ade ga malu makannya. Ntar dipelototin bisa ga jadi makan kamu.” Ujarnya diselingi tawanya yang renyah.

Kuikuti saja omongan suamiku ini, memang benar kata pepatah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Kalau di tradisi keluargaku, tidak sopan membiarkan tamu makan tanpa ditemani oleh empunya rumah, apalagi menantu. Kalau di keluarga ini justru sebaliknya.

Kuperhatikan suamiku yang dengan lahap menyantap makanannya. Memang harus kuakui masakan ibu mertuaku ini enak sekali di lidah. Klo bisa di rate sudah aku kasih dua jempol. Berbeda sekali dengan dirumahku, dimana segala sesuatunya di urus oleh pembantu. Kalau ada acara-acara seperti arisan atau pesta seperti kemarin, bunda lebih memilih untuk menggunakan jasa catering dari pada harus merepotkan diri untuk berurusan di dapur. Belakangan ini bahkan bunda sudah jarang sekali masak, walaupun sebenarnya masakan bunda tak kalah sedapnya. Mungkin sudah terlalu sibuk dengan kegiatan sosialnya sebagai istri anggota dewan sehingga terkadang sudah jarang berada dirumah. Bisa jadi juga bunda merasa kesepian dirumah sehingga banyak menyibukkan diri diluar.

Setelah makan, suamiku membereskan sisa makanan kami dan membawanya kembali ke dapur. Selang sesaat, suamiku naik dengan seorang perempuan tua dan menghampiriku.

“Ini mamak abang”

Langsung saja aku berdiri dan menyalaminya. Kuciumi tangannya sebagai rasa hormatku. Wanita yang telah melahirkan hampir selusin anak ini kelihatan begitu kuat di usianya yang senja. Lebih heran lagi saat kukuetahui diusianya itu ia masih punya tenaga untuk berlaga di sawah dari menanam padi hingga menuainya. Benar-benar sosok wanita yang bersahaja dalam kesederhanaan. Pikirku.

*****

Rintik-rintik hujan mulai terdengar membasahi atap rumah. Cuaca sekarang memang susah untuk di prediksi. Waktu berangkat tadi matahari bersinar terik dan begitu menyengat kulit. Aku mulai merasa bosan di dalam rumah ini. Tak ada televisi yang bisa aku tonton untuk mengusir suntuk. Suamiku yang melihatku uring-uringan memberikan sebuah album kepadaku. Kubolak-balik lebar-lembar album dimana potret keluarga suamiku tersimpan. Tak banyak memang karena sebagian telah rusak terendam air .Dia menjelaskan satu persatu nama-nama saudaranya yang tentu saja tak bisa kuingat semuannya. Lagipun ini bukan pelajaran sekolah yang harus aku hafalkan untuk bekal ujian. Tapi cukuplah untuk sekedar memperkenalkan aku dengan keluarga besarnya baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Satu yang paling menarik perhatianku adalah sesosok wanita yang sangat mirip dengan kak Wasti, tapi bisa kupastikan dia bukan kak Wasti karena mereka berada di satu foto yang sama. Mirip sekali, seperti kembaran saja. Aneh… mengapa suamiku luput menceritakan tentang dia.

“em… itu Nafsi… Anak Nyak Mi.” (nyak mi:kakak kandung mamak).

“Masih hidup?”

“Entahlah. Terakhir abang dengar dia di Jawa.”

“Lho!?” Tak bisa kututupi rasa penasaranku akan dirinya

“Dia.. Lari… eum… dengan pacarnya.”

Hah… belum hilang rasa terkejut dan penasaranku, suamiku kemudian melanjutkan lagi bercerita. Mungkin dia mengerti rasa keingintahuanku yang begitu besar.

“Seminggu setelah nikah dia kabur meninggalkan keluarga dan suaminya.

Dia memilih untuk lari tanpa ikatan pernikahan dengan sepupunya sendiri, anak Mak Po (mak po: kakak kandung nyak mi).”

Terlihat gurat kesedihan dan kekecewaan dari raut wajahnya.

“Tak ada yang tahu kalau mereka telah berhubungan sebelum Nafsi nikah, kejadian itu sudah 15 tahun yang lalu. Tapi kelakuan bejad mereka telah mencoreng dan memberi aib bagi keluarga ini.”

“Suaminya gimana?” selidikku lagi.

“Tak lama setelah kejadian itu, dia menikah lagi. Tapi na’as, waktu tsunami dia dan seluruh keluarganya menjadi korban. Mereka tinggal di Lhok’Nga.”

“Suaminya adalah teman dekat abang. Betapa menyedihkan dia saat itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya begitu sabar.”

“Kalau itu abang, sudah sedari dulu abang tebas kepala kedua orang terkutuk itu.”

Kali ini dia menatap tajam mataku. Tak ada sedikitpun gurat keraguan atas perkataannya itu.

*****

“Dek… kamu mau mandi? Udah abang timbakan air tuh.”

Dengan bergegas aku mengambil baju ganti dan mengikuti langkahnya.

Sumur mandi terletak terpisah diluar, disebelah dapur dan  hanya disekat dengan seng yang sudah berkarat. Tertutup tapi tidak ada atap. Di tengahnya terdapat sumur yang dalam. Sebuah timba kecil terletak di atas kayu yang menutupi sebagian cincin sumur. Sebuah ember berisi penuh air terdapat disebelahnya. Hujan memang sudah berhenti beberapa menit yang lalu, tapi meninggalkan genangan air di antara lantai sumur yang hanya beralaskan batu-batu gunung yang disusun menutupi tanah yang liat. Celah-celah diantaranya mengeluarkan bau pesing. Sungguh tidak nyaman harus mandi dalam situasi seperti ini.

“Kok bengong?”

“Mau abang kawanin mandi?”

“Eh.. eum.. Tolong jagain di depan pintu ya?”

“Mau di dalam juga boleh” candanya.

Kututup pintu yang terbuat dari kayu berlapis seng ini rapat-rapat. Akh… kenapa aku jadi terdampar ditempat seperti ini? Aku mau pulang.

Kubuang jauh-jauh penglihatanku dari pemandangan- pemandangan dan pikiran-pikiran buruk tentang tempat ini. Kututup mataku dan kuguyur air membasahi tubuhku.

Dingin.

****

“Ini kamar Layla, kamar abang ada di bawah dekat dapur dan cuma ada ranjang single, malam ini kita tidur disini.”

Kamar yang sederhana sekali, berukuran 3×3 meter. Hanya ada sebuah tempat tidur berukuran sedang, dan sebuah lemari dengan satu pintu.  Tak ada meja rias, yang ada hanya sebuah cermin berukuran 15×30 cm yang menempel di dinding yang menghadap tingkap (jendela). Kuletakkan tas di atas tempat tidur. Suamiku membakar satu lempeng obat nyamuk lalu diletakannya di bawah ranjang, sampai terbatuk-batuk aku dibuatnya.

Tak banyak kata terucap dari bibirku. Belum cukup rasanya culture shock terjadi di rumah ini. Sekarang aku harus menghabiskan malam di tempat yang sempit dan sumpek begini.

Menyedihkan.

“Belum mau tidur? Kok masih bengong gitu?” ujar suamiku yang sudah berada di atas tempat tidur.

“eum… “ masih ragu-ragu rasanya untuk naik ke ranjang. Bagaimana mungkin aku bisa tidur berdua di atas ranjang yang menurutku sempit itu.

Suamiku kemudian menarik lagi nafas panjangnya.

“Kan abang udah janji sama ade. Abang tidak akan memaksa ade untuk melakukannya. Biarlah itu semua terjadi sewajarnya. Sekarang kita nikmati aja saat-saat perkenalan ini.” Ujarnya kemudian.

Dengan perlahan aku naik ke atas tempat tidur itu. Hawa panas dikamar ini membuatku berkeringat luar biasa. Kulihat suamiku dengan santainya menanggalkan bajunya.

“ade pasti terkejut batin berada di rumah ini kan?”

Ah.. seandainya saja dia tau kalau aku lebih terkejut lagi melihatnya bertelanjang dada disini.

“Inilah keluarga abang, disinilah abang dibesarkan. Abang tak punya mobil mewah seperti yang kamu kendarai setiap pergi ke kantor, abang juga tak mampu menyediakan kamar mewah ber AC seperti yang bunda persiapkan untuk kita, abang tak berpendidikan tinggi, pekerjaan abang juga masih honor.”

Kali ini dia menatap mataku lekat-lekat. “Tapi insya Allah abang mampu untuk menjadi imam dan membahagiakan kamu.”

“Apapun yang terjadi nanti, abang janji tidak akan pernah meninggalkan dan menduakan cinta untuk Ama. Allah jadi saksi.” Ujarnya sungguh-sungguh.

“Abang sadar sampai saat ini tak sedikitpun hati Ama untuk abang. Kamu yang wanita karir dan berpikiran modern pasti tidak dengan mudahnya menerima perjodohan seperti ini, kan? Tapi abang yakin suatu hari nanti hati kamu pasti terbuka untuk abang. Abang akan menunggu dengan sabar sampai saat itu tiba.”

*****

Besok masa cuti kantorku berakhir. Seminggu tidak beraktivitas di kantor membuatku bosan berada dirumah. Memang kegiatanku sebagai pengantin baru sangat menyita waktu karena harus berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain untuk meperkenalkan pasangan ke sanak family kami masing-masing. Hal itu sangat melelahkan karena kami harus ‘mempertontonkan’ kebahagiaan dan kemesraan yang berarti aku harus terus ‘berakting’ menjadi menantu yang santun dan bahagia.

Seiring waktu yang terus bergulir, sedikit demi sedikit aku mulai mengenal suamiku. Dia sangat sabar, penyayang, dan penuh pengertian. Setiap malam ia selalu mengusap dan membelai rambutku sambil membacakan shalawat dan doa-doa tidur. Ia baru tertidur setelah aku terlelap. Aku mulai terbiasa dengan perlakuannya itu. Disisi lain, aku hampir tak bisa ‘bernafas’ karena harus senantiasa bersamanya. Dia memang tidak ke kantor, dia bekerja hanya kalau dibutuhkan untuk menyalurkan bantuan untuk masjid, pasantren, atau dayah. Kalaupun harus pergi, itupun hanya ke mesjid diwaktu-waktu sholat fardhu. Aku yang tak pernah terikat dan selalu mandiri merasa agak risih juga didampingi kemanapun aku pergi dan dimanapun aku berada. Semoga dengan kembali  beraktivitas di kantor  membebaskan aku dari sangkar emas yang merupakan rumahku sendiri ini. Pikirku dalam hati.

*****

“Apa ga sebaiknya kakak berhenti kerja aja, kan bentar lagi mau berangkat” Ujar bunda saat menyiapkan sarapan untuk kami.

“Iya kak Ama… Kalian kan belum bulan madu. Ngapain sih kerja kan udah punya suami. “

Ugh.. celotehan Farah kali ini benar-benar membuatku kesal bukan kepayang.

“Kakak suntuk dirumah terus, lagian bang Mun  juga izinin kok.” Kulirik suamiku sebentar, tak ada nada protes dan sikap penolakan. Aku khawatir kalau dia ikut bersuara menentang keinginanku.

“Iya kan bang?!” Kali ini kutatap tajam suamiku, kuharap dia mengerti maksudku.

“Tak apa bunda, saya sudah mengizinkan dia untuk melanjutkan apa yang saat ini sedang dia tekuni. Lagipula saya juga ada keperluan di kampung.”

Kulirik lagi suamiku ini. Ngapain dia ke kampung? Kenapa dia ga bilang aja mau ke kantor walaupun harus berbohong. Ugh…

“Oh… ya udah kalau Maimun sudah kasih izin. Salam dari bunda untuk mamak di kampung ya.”

“kakak juga jangan telat pulangnya. Ingat sekarang sudah punya suami, harus tau tugas dan kewajiban.”

Dengan cepat kuselesaikan sarapanku ini. Kalau sudah memberi nasehat bunda kadang suka lupa waktu. Padahal aku bukan anak kecil lagi. Dengan bergegas aku beranjak pergi dari meja makan ini dan mengambil kunci mobilku.

“Kak… Farah pergi bareng ya, motor farah mogok lagi.”

“Eh… bareng aja ma kak Firda.”

“Dia kuliah siang.”

“ya udah buruan…!”

Huh… tu anak kalau dandan lamanya minta ampun. Kulirik suamiku yang sedang menghabiskan sarapannya. Hanya tinggal dia dengan bunda saja. Ayah sudah beberapa hari yang lalu pergi tugas ke Jakarta, sedang bang Arul sudah berangkat pagi-pagi sekali karena kena piket lapangan. Kuciumin tangan bunda dan suami sebelum berangkat, hal yang biasa kulakukan pada bunda, tapi pada suami, ini yang pertama. Dia hanya mematung melihatku.

Kulangkahkan kaki menuju garasi dan menstarter Honda Jazz merah kesayanganku. Sambil menunggu Farah kunyalakan music dari CD favoritku. Alunan musik “If It’s OK With You” dari Shayne Ward membuatku berdendang, mulutku komat-kamit mengikuti syair-syairnya dengan fasih. Hm… akhirnya aku bebas… Pikirku. Kulihat tasku bergetar di samping tempat dudukku, dengan bergegas aku raih tas itu dan mengambil Hand Phoneku. Ada SMS masuk

From : Satria

Message : Berapa lama lagi kamu sampai di kantor?

*****

Ini sudah yang ketiga kalinya kubunyikan klakson mobil. Kesabaranku sudah hampir habis.

“Kak Ama ni buru-buru banget sih” Gerutu Farah sambil merapikan jilbabnya di sebelahku.

“Dah tau mau bareng, siap-siap kek dari tadi” jawabku kesal.

“Kenapa sih kakak ga minta diantarin aja sama bang Mun? Mobil kan bisa Farah yang pake.”

“Yeee… maunya pake aja, minyak diisniin juga ne, empat hari make mobil bisa sampe sekarat gini.” Ujarku kesal.

Dari dalam mobil kulihat suamiku yang berdiri di teras rumah. Dari bibirnya muncul senyum tipis yang getir. Entah apa yang dia pikirkan, entahlah… kulajukan mobil dengan cepat keluar dari halaman rumah.

“Kak Ama… Farah ga ada uang ne.”

“lho… Emang dibawa kemana uang bulanan kamu itu?”

“Kemarin Farah belanja baju, kirain masih ada sisa, rupanya uangnya dah Farah pake bayar hutang beli parfume. Mau minta ma bunda, kakak tau ndiri kan bunda orangnya pelit banget. Mana mau nambah-nambah jatah bulanan. Klo kak Ama ga kasih, ntar siang Farah bisa kelaparan di kampus. Ga kasihan apa lihat adek minta-minta dan ngutang sana sini yar bisa makan siang” Ujarnya

Huh… pinter banget memelas. Dari dulu adikku yang satu ini memang manja dan pinter banget mengambil hati orang.

“Coba cari dompet dalam tas , ambil dua ratus ribu aja, cukup-cukupin tuh sampe bulan ini.”

Dengan cepat Farah meraih tas ku, mencari dan merogoh dompet kulitku.

“Kak… kayaknya HP nya bergetar nih, Farah angkat telponnya yah… Belum sempat aku menghalangi niatnya, getaran HP telah duluan berhenti. Ah.. syukurlah. Pikirku

“Lho.. kayaknya Cuma Miscall.”

“Far… Tarok balek tu HP dalam tas!! “ Perintahku keras dengan mempelototi matanya.

Dengan segera ia bergegas meletakkan kembali HP tersebut ke dalam tasku. Suasana menjadi hening seketika.

Tak lama kemudian, mobil sudah memasuki pekarangan kampusnya.

“Nanti kalau mau pulang minta jemput sama kak Firda… Ingat..!! Jangan pulang berdua lagi dengan Ryan..!!”

“Iya ah… Kak Ama ne, sekarang dah sama cerewetnya dengan bunda. Huh…” Ujarnya kemudian sambil menutup pintu mobilku.

Baru kemarin rasanya dia menjadi adik kecilku yang lucu, betapa tak kusadari dia telah tumbuh jadi dewasa, sejak beberapa hari yang lalu saat aku dan suamiku memergoki dia jalan dengan Ryan, yang katanya senior di kampusnya. Aku janji tidak akan mengadukan hal ini pada Bunda asalkan dia berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya itu.

*****

“Pagi Ama… tumben cepet banget si penganten baru ini datang.” Sapa Astrid yang melihatku sedang berjalan di parkiran mobil.

“Iya lah… masa berlama-lama terus di rumah.” Jawabku ramah dan menghampirinya.

“Kantor terasa sepi banget ga ada kamu, Ma.”

“ha ha ha… masa sampe segitunya sih.”

Kami berjalan bersama menaiki setiap anak tangga. Ruangan kerja kami memang terletak di lantai 2.Sebuah ruangan yang berukuran 6×10 meter.Didalamnya terdapat enam meja kantor. Tak ada sekat di antara meja-meja tersebut sehingga ruangan ini menjadi kelihatan sangat luas. Diatas mejaku terdapat seperangkat PC yang terhubung dengan internet dan beberapa barisan file binder yang tersusun rapi. Aku memang masih bekerja di salah satu organisasi perwakilan UN (PBB) yang bergerak di bagian pemberdayaan masyarakat korban tsunami. Fokus area kami adalah Kota Banda Aceh, khususnya di kecamatan Meuraxa. Proyek ini adalah salah satu proyek yang masih dipertahankan setidaknya sampai dua tahun kedepan. Sudah hampir dua tahun aku bekerja disini terhitung sejak aku menyelesaikan kuliah di awal tahun 2007. Hanya ada 5 orang karyawan dan seorang project manager yang berkebangsaan Amerika, namanya David. Diantara karyawan, hanya aku yang orang Aceh, sedangkan Astrid berasal dari Medan, Marina dan Budi dari Jakarta, dan Andika dari Bandung. Mereka dulu bekerja sebagai tim relawan sebelum akhirnya bekerja di proyek ini.

Bekerja dengan NGO asing seperti ini memang menjanjikan dari segi pendapatan yang hampir tiga kali lipat dari gaji dan tunjangan pegawai negeri strata III/A. Tapi itu sebanding dengan kerja keras kami, dimana kami harus selalu bekerja dibawah pengawasan seorang professional yang tentu menciptakan peluang terjadinya atmosfir kerja yang under pressure, memicu stress karena harus selalu melakukan pengawasan di lapangan dan membuat laporan, membutuhkan skill dan kecakapan penguasaan teknologi informasi dan tentunya bahasa Inggris, dan sering kali kami harus lembur. Tapi aku sangat menikmati saat-saat bekerja di kantor ini. Walaupun mungkin hanya tinggal beberapa minggu lagi, karena aku berniat akan mengundurkan diri demi meraih cita-citaku.

Hanya ada aku dan Astrid diruangan ini, Andika dan Budi sudah pergi kelapangan, sedang Marina menemani David meeting di kantor pusat. Kulirik Astrid disebelahku sedang sibuk mengecek email. Dengan cepat aku melangkahkan kaki ku ke rest room, tak lupa kuselipkan HP kedalam saku rokku.

Di dalam kamar yang kecil itu, dengan cekatan aku mencari-cari sebuah nomor telepon dan membuat panggilan untuk nomor tersebut. Tak ada jawaban.

Kuulangi lagi membuat panggilan… Ah… dia mengangkatnya… Hening. Tak ada suara.

Kucoba memulai pembicaraan.

“Apa Kabar?”

“eum… baik. Kamu sudah dikantor?”

“Iya.” Jawabku singkat.

“Belakangan ini setiap malam abang selalu merasa gelisah.

eum… abang belum bisa terima kalau Ama sudah menjadi milik orang lain. Abang masih ga terima, bunga hati abang dipetik dan dimiliki orang lain. Maafkan abang, seharusnya abang tidak menceritakan ini pada Ama. Seharusnya abang tidak mengganggu Ama lagi. Tapi abang tidak bisa… Abang bisa gila kalau begini terus.”

Astagfirullah..! Ingat sama Allah bang… Ama bukanlah yang terbaik untuk abang, Insya Allah abang pasti menemukan gadis yang lebih baik dari Ama.” Jawabku iba.

“Jadi inilah penolakanmu…?! Apa itu pemikiran Ama selama ini? Apa menurut Ama gampang untuk melupakan semua cerita kita? Abang jadi berpikir, jangan-jangan Ama yang tidak serius dan tulus mencintai abang, sehingga dengan mudah menerima pinangan orang lain”

“Kok ngomong gitu? Bukan itu yang Ama maksud, sungguh…”

“Sekarang jawab pertanyaan abang… Apa sekarang Ama bahagia?”

Tak bisa lagi rasanya kubendung air mata ini…  Mengapa dia mempersoalkan ini…

“Jawab Ama… Apa sekarang Ama bahagia??”

“Iya bang… Ama bahagia.” Jawabku terisak.

Ku berusaha untuk bersikap tegar. Aku harus bisa menyakinkan bahwa cerita kami telah berakhir. Aku tak ingin lebih menyakitinya lagi.

“Ini sudah jalan hidup kita… Ama mungkin tidak membawa berkah untuk abang, lihat saja kehidupan abang sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, abang mendapatkan pekerjaan yang bagus, percayalah suatu hari nanti abang pasti mendapatkan gadis yang lebih baik pula, lebih baik dari Ama bahkan”

Ya Tuhan… mengapa berat sekali rasanya mengungkapkan semua ini.

“Oh… jadi kamu bahagia sekarang. Kamu tau Ama.. Kamu itu egois… Apa pernah kamu berpikir bagaimana perasaan abang ketika bersama kamu? Kamu yang sukses di pendidikan, Kamu yang sukses di karir. Kamu yang selalu mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu yang selalu bercerita tentang pekerjaan-pekerjaanmu di kantor, tanpa memperhatikan betapa iri dan mindernya abang waktu itu. Kalau seandainya abang tidak memperdulikan kamu dan keluargamu, sudah dari dulu abang pinang kamu, walau itu harus dengan menggadaikan motor abang, tapi abang tidak melakukannya, kamu tahu kenapa? Karena abang begitu mencintai kamu dan selalu berpikir untuk memberikan yang terbaik buat kamu, lebih dari apa yang telah kamu dapatkan selama ini. Dan ketika itu sudah abang dapatkan, dengan mudahnya kamu berpaling dari abang, mengapa kamu tidak bisa bersabar… padahal hanya tinggal sebentar lagi saja… “

Kudengarkan dan kucermati setiap perkataannya disela isak tangisnya. Perkataannya telah menggoyahkanku… Ya Tuhan… kenyataan apa lagi ini…

*****

“ Dulu ada yang bilang padaku

Jarak cinta dan nafsu hanya setipis kertas

Cinta berbuah nafsu

Itu setan”

“Ama… kamu masih disana, kan?”

“Iya…” Jawabku datar.

“Ama mau kan? Abang janji akan membahagiakan Ama, kamu adalah wanita yang paling abang cintai, abang tidak bisa hidup tanpa kamu sayang… Hal ini telah abang pikirkan dan pertimbangkan masak-masak, abang akan menanggung segala konsekuensinya, asalkan abang bisa hidup dengan kamu. Kalau Ama memang mencintai abang, abang harap Ama tidak menolak tawaran abang ini…”

Belum sempat aku merespon perkataannya yang mengagetkan itu, kudengar bunyi ketukan keras dari luar pintu.

“Nanti Ama hubungi abang lagi ya, Astrid udah mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi ini. Ga enak kalau Ama terlalu lama di dalam, nanti dia curiga. Udahan ya”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mematikan telepon tersebut dan membuka pintu. Kulihat Astrid yang terbengong melihatku, mungkin dia heran melihat mataku yang sembab. Aku tak ingin memberinya kesempatan untuk merasa prihatin atas keadaanku, karena sesunggunya aku sedang tak ingin membahasnya dengan siapapun.

Dengan bergegas aku kembali ke meja kerjaku. Terduduk dan terkulai lemas… Ini gila… Bagaimana mungkin dia bisa berpikir untuk mengajakku lari bersamanya? Dia bilang penempatannya kerjanya di Pontianak dan ingin memulai hidup baru disana bersamaku? Apa dia sudah gila? Aku ini wanita bersuami, tak sadarkah dia tentang hal itu?

*****

Sepanjang hari ini aku benar-benar tidak fokus dengan pekerjaannku, aku masih memikirkan perkataan Satria tadi pagi. Beberapa kali David memanggilku, tapi aku terkesan acuh dan tidak menanggapi, aku asik menerawang dalam alam pikiranku sendiri. Begitupun guyonan dan gurauan dari teman-temanku di kantor yang tak kuhiraukan.

“Ama… Ama… Kamu dengar ga sih?”

Sapaan Marina membuyarkan lamunanku.

“Eh.. apaan?”

“Jiah.. elo, Ma… Mentang-mentang penganten baru, pikiran loe masih seputaran ranjang aja ampe ga perduli keadaan. “ Ujarnya kesal.

“Eh.. sorry deh Mar… eum.. emang ada apaan sih?”

“Pulang kantor nanti kami mau karokean, kebetulan juga buat ngerayain farewall partinya Andika secara dia udah diterima job di PU. Loe mau ikutan ga?” Jelas Marina kemudian.

“eum.. gimana ya Mir..”

“Iya Ma… loe ikutan ya, ga enak kalo cewe nya cuma berdua aja. Ajak suami loe juga boleh kok, itung-itung sekalian kita bisa kenal” Sela Astrid.

Waduh… bagaimana mungkin aku mengajak suamiku ketempat begituan, mana mau dia ikut. Lagipun nanti kami hanya jadi bulan-bulanan ocehan dan keusilan mereka.

“Waduh mir… klo ngajak suami kayaknya ga sekarang deh, gw ikutan, tapi ntar gw pulang duluan ya.”

Dengan perasaan tak enak, akhirnya kuterima juga ajakan mereka. Tak beberapa lama kemudian kulihat HandPhone ku bergetar di atas meja. Satria is calling.. Langsung saja aku meraihnya dan meng– non active kannya. Aku belum mau membahasnya sekarang. Pikirku.

*****

Waktu sudah memasuki pukul 11 malam, komplek perumahanku sudah kelihatan sepi, tak ada lagi suara-suara manusia atau orang yang berlalu lalang. Kulihat pagar rumah juga telah terkunci. Terpaksa aku harus turun dan membukanya dengan kunci cadanganku. Kulajukan mobil perlahan memasuki garasi. ‘Ugh… jadi pulang telat deh, seharusnya tadi aku tidak usah ikutan aja’ gerutuku dalam hati. Kulihat motor suamiku yang telah terparkir di dihadapanku. Dengan perlahan aku menutup pintu mobil dengan harapan tidak ada orang rumah yang sadar akan kepulanganku, dengan mengendap-ngendap kulangkahkan kaki menuju tangga kamarku. Kudapati suamiku yang sedang khusyu’ mengaji di kamar tidur kami. Terasa teduh dan menyentuh hati. Tanpa sadar aku sudah terduduk di belakangnya. Kupandangi punggungnya dan kuresapi setiap ayat-ayat yang di bacanya. “Sudah berapa lama dia mengaji seperti ini? Bukankah waktu sholat Insya sudah berlalu hampir tiga jam lalu?” Pikirku.

“Kamu sudah sholat?” Tanya suamiku sambil menutup Al-qur’an yang dibacanya.

“Masih halangan

Hening sebentar.

“Tadi abang coba hubungin tapi HP ade mati. Abang khawatir terjadi sesuatu dengan kamu.”

Astaga… aku lupa mengaktifkan kembali HP yang sengaja aku non-aktifkan itu.

“eum… tadi HP Ama habis baterai” Tak berani rasanya ku menatap matanya, aku takut ia mengetahui ketidakjujuranku.

“Maaf sudah membuat abang khawatir”

“Abang tidak melarang, tapi paling tidak kabari abang kemanapun ade pergi, ade bukan hanya telah menyusahkan abang tapi bunda juga yang sedari makan malam tadi terus menanyakan keberadaanmu.”

“Abang merasa tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu, menelepon kamu pun tak bisa. Sepulang dari Masjid tadi abang mencari ade di kantor, tapi kantor ade sudah sepi dan lenggang, abang sudah hampir putus asa kemana lagi harus mencari kamu. Seandainya kamu tahu betapa khawatirnya abang waktu itu.”

Kali ini kuberanikan mataku menatap suamiku.

“Sayang… cerita sama abang semua beban pikiranmu. Bukannya abang tidak tahu apa yang selama ini kamu pendam. Bukan berarti abang acuh, tak pernah menanyakan bagaimana perasaan kamu selama ini. Abang ingin mendengarkannya langsung dari kamu, tentang semua cerita masa lalumu, tentang keinginanmu. Tapi kenyataannya kamu semakin hanyut dengan perasaan dan pikiran kamu sendiri. Kamu sudah tidak sendiri lagi, sayang… Lihatlah abang yang ada di depanmu ini. Betapa celakanya abang membiarkan istri abang meratap dalam ketidakbahagiaannya hidup bersama abang.”

Tangisku pecah…

Betapa aku tak kuasa mendengar perkataan suamiku ini. Mengapa selama ini aku dibutakan dari cinta dan kasih sayangnya. Mengapa aku selalu menyalahkan takdir dan meratapi nasib.  Aku menyesal. Aku menyesal menjadi begitu egois, aku menyesal mengapa aku menjadi seperti ini. Mengapa hatiku sekarang sekeras batu.

Kurasakan kedua tangannya yang mengusap pipiku… menghapus air mataku, melenyapkan dukaku. Matanya yang teduh telah menentramkan batinku. Perkataannya itu mendamaikan jiwaku.

“Abang sangat mencintaimu, sayang… Kaulah wanita pertama yang sedari awal telah menawan dan memenjarakan hati abang. Apapun akan abang lalukan demi kebahagiaanmu. Abang ingin melihat seyumanmu… bukan lagi air mata kesedihan ini.”

Ingin rasanya aku memeluknya. Aku ingin melepas semua kegundahan hatiku padanya. Tapi mengapa tubuh ini terasa berat untuk melakukannya. Aku tidak mengerti dengan diriku ini.

“Besok siang abang berangkat ke Jakarta. Beberapa waktu yang lalu nama abang telah di daftarkan dalam buku putih. Insya Allah awal tahun depan sudah dapat SK. Tapi abang diharuskan untuk ikut pelatihan dan training kepengurusan mesjid dan dayah selama sebulan disana”

“Eh… sebulan??”

“Iya… eum… sebenarnya sudah dari tadi siang abang ingin mengabarkan ini, tapi…” ia tak melanjutkan lagi kata-katanya tersebut. Ia menatapku sejenak dan beranjak bangun dari tempatnya duduk dan melipat sajadahnya. Tinggal lah aku yang masih mematung di lantai ini. Seolah masih tak percaya dengan apa yang sedang aku dengar ini.

“Besok ade bisa antarin abang ke bandara, kan?” Tanyanya kemudian.

Kulihat dirinya mulai menghilang dari hadapanku. Entah apa yang mendorongku sehingga dengan cepatnya aku beranjak dan memeluk punggungnya. Punggung yang telah lama aku perhatikan tanpa pernah berani menyentuhnya. Aku terisak, tersedu…. Kurasakan tubuhnya yang tersentak… kaget…

“Biarkan Ama seperti ini… sebentar… ” Isakku. Tangisku semakin kuat, pelukanku semakin erat.

Kurasakan tangannya yang kini mengelus lembut tanganku dan menggenggamnya.

Tanpa suara.

Hening.

*****

Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur dalam pelukan suamiku. Kehangatan ini belum pernah kurasakan. Kusentuh dadanya yang bidang, kudengarkan detak jantungnya yang tak beraturan. Nafasnya berat. Ia diam, memandangku gusar dan menggenggam kedua tanganku, erat, memenjarakan tanganku dalam genggamannya. Aku tak mengerti, mengapa?

Ia pejamkan kedua matanya, menarik nafas panjang,  lalu mensenandungkan selawat dan doa-doa tidur sambil membelai rambutku, menyentuh tubuhku. Lembut… Setiap ia menyentuh kulitku, seperti ada getaran listrik yang menyengat, melenakan, membuai… Tangannya menggodaku menyeretku pada titik lemahku. Aku terlanjur hanyut dan mengerang dalam alam tak sadarku, entah kemana logika kini berada saat ia mengecup kedua pipiku, dan mencumbui leherku.

“Kamu tahu sayang, setiap bersamamu kesabaran abang selalu diuji, dan malam ini adalah ujian paling berat untuk abang. Bagaimana mungkin pikiran abang bisa tenang melihat istri abang yang begitu menggoda dan menggairahkan ini” Bisiknya ditelingaku.

Kutatap matanya yang teduh, kini aku paham arti perlakuannya. Kubenamkan wajahku dalam pelukan dadanya… aku begitu terharu, kembali terisak. “Maafkan Ama…” Hanya itu kata yang terucap dari bibirku.

“Malam ini abang telah mempersunting hatimu, itu sudah cukup membuat abang bahagia menanti saat kita bersama lagi.”

“Tidurlah sayang… Abang akan terlelap hanya saat kamu sudah tertidur.”

Kata-katanya begitu menghipnotisku, aku tak takut lagi mendekap erat tubuhnya. Kudengarkan jantung suamiku yang berdetak bearturan dan kuresapi setiap tarikan nafasnya, irama yang harmonis. Aku merasa aman, rasa malu  entah sejak kapan telah sirna dari diriku, keraguan pun telah lenyap. Hatiku telah tertambat padanya. Entah sejak kapan…

*****

Sedari pagi tadi, aku sudah sibuk mempersiapkan segala keperluan suamiku. Aku juga telah menghubungi David dan meminta izin ke kantor setelah siang. Kulihat suamiku sudah rapi dan bersiap untuk pergi. Dengan cepat dan cekatan kukenakan jilbabku. Belum sempat aku merapikannya, suamiku telah menarikku kembali ke dalam pelukannya. Erat… nafasku sampai sesak. Kupejamkan mataku, ku tahan butiran bening yang hampir tumpah.

“Sebulan itu cuma 30 hari kan sayang, rasanya abang tak sanggup meninggalkanmu walau sehari saja.” Bisiknya pelan.

“Dan sebentar lagi kamupun akan meninggalkan abang, dua tahun itu terlalu lama sayang… “

Kali ini dia melepaskan pelukannya, memandang wajahku, menatap mataku…

“Tapi abang akan menunggu… Demi kebaikanmu abang iklas”

Kusentuh wajah suamiku ini, pelan dan perlahan kugambarkan sketsa wajahnya agar melekat di otakku. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya…

“Hari ini Ama akan membuat surat pengunduran diri, Ama akan menanti abang pulang dirumah, kita bisa menghabiskan waktu hanya berdua saja sampai keberangkatan Ama nanti”

“Kamu yakin dengan keputusan itu?”

“Iya…” Kudekap kembali tubuh suamiku ini, seolah tak ingin dia pergi.

“Kamu mau minta dibawain apa nanti, sayang?”

“eum… asal abang pulang dengan selamat dan sehat itu sudah cukup buat Ama”

“eum… tapi kalau seandainya abang nanti ada waktu carilah sebuah pakaian tidur untuk Ama kenakan dimalam pertama abang pulang nanti. Eum… yang abang sukai” Bisikku lirih

Dia melepaskan pelukannya dan memandangiku dengan serius

“hm… permintaan yang berat sekali itu sayang”

“bisa kacau nanti pikiran abang membayangkan kamu dalam balutan pakaian itu.” ujarnya kemudian di sertai seyumannya yang menggoda. Kembali dia mengecup keningku lembut.

“Kita pergi sekarang ya.”

Kuserahkan kunci mobil kepadanya. Kuikuti dirinya menuruni anak tangga, sekali lagi aku memandangi punggungnya yang berjalan dihadapanku. Dialah imamku. Dialah kini sandaran hatiku. Dialah kini belahan jiwaku.

*****

Hari ini adalah hari terakhirku di kantor ini, kubereskan meja dan file-file ku. Aku yakin tak lama lagi akan ada yang menggantikanku duduk dikursi ini. Kuhampiri David dan kuserahkan semua dokumen penting kepadanya. Tak banyak kata yang terucap darinya. Dia menyerahkan selembar sertifikat kerja padaku. Kupandangi kertas itu lama, aku terhenyak dengan apa yang dituliskannya di situ. Sebuah referensi kerja dengan posisi “Community Empowerment Specialist” yang di tanda tangani langsung oleh head coordinator UN dan kepala BRR. Wajar saja aku bingung karena di surat kontrak yang aku tanda tangani dua tahun yang lalu menyebutkan posisiku sebagai assitent surveyor.  “Kamu layak mendapatkannya Ama.” Jelas David kemudian yang mengerti dengan kebingunganku.

Kuhampiri Astrid dan Marina di meja kerjanya. Aku mengerti kekecewaan mereka karena menolak farewall party untukku.

“Kita baru aja kehilangan Andika, eh elo malah ikut-ikutan, Ma.” Ujar marina sedih. Kupeluk erat kedua sahabatku ini.

Keep in touch ya, Ma.” Ujar mereka sambil melepaskan aku pergi dari pintu. Kuturuni anak tangga satu persatu. Lama kupandangi bangunan kantor ini. Kantor yang telah menggembleng aku sebagai seorang professional, yang telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, dan terjun langsung ke masyarakat dengan berbagai problematikanya.

Didalam mobil, Kuronggoh HP dalam tasku dan menelepon Satria. Aku sudah janji akan meneleponnya siang ini. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 12,sudah waktunya istirahat pikirku.

Setelah berbasa-basi menanyakan kabarnya. Kuutarakan maksudku meneleponnya hari ini sekaligus menanggapi pernyataannya tempo hari.

“eum… tentang pembicaraan yang sempat terputus, Ama sudah memikirkannya.”

“Ama tidak bisa melakukannya. Maaf… Ama sekarang sudah bahagia dan Ama mencintai suami Ama.” Ujarku tegas.

“sudah abang duga, ternyata kamu lebih memilih dia dari abang. Abang memakluminya. Sedari awal abang sudah punya firasat cepat atau lambat kamu akan mencintainya juga. Dugaan abang tidak meleset, kan?” Ada nada sinis atas ucapannya itu.

“Baguslah kalau abang sedari awal telah menyadarinya. Dan sekarang Ama minta jangan ganggu kehidupan Ama lagi. Kalau abang memang mencintai Ama, maka abang akan membiarkan Ama hidup bahagia dengan pasangan Ama sekarang” Aku sadar betul ucapanku ini akan melukai hatinya lebih dalam lagi. Tapi ini harus aku lakukan agar ia tak semakin terpuruk dengan perasaannya terhadapku. Walau pahit, cepat atau lamabat ia harus segera sadar bahwa hubungan kami telah berakhir dan dia bisa memulai lagi kehidupannya yang baru.

“Baiklah, kalau itu keputusan kamu, abang terima.”

“eum… tapi, maukah Ama untuk terakhir kalinya menemui abang, beberapa hari lagi abang akan berangkat ke Pontianak, kita tidak akan pernah bertemu lagi mungkin juga selamanya. Abang hanya ingin sekali lagi melihat pujaan hati abang.”

Permintaan yang berat sekali untuk aku penuhi.

“Ama mau kan meluluskan permintaan abang yang terakhir ini, setelah itu abang janji tidak akan mengganggu Ama lagi.”

Lama aku berpikir… Aku takut akan ada yang melihat dan mengenali kami saat aku bertemu dengannya. Aku tak ingin orang-orang berpikiran buruk tentang diriku yang telah bersuami ini. Sebagai istri aku harus bisa menjaga diri dan kehormatanku. Hal yang selalu diulang-ulang oleh bunda dan ayahku saat memberikan nasehat pernikahan sesaat sebelum aku menikah dulu.

“Kapan abang berangkat?”

“Hari minggu ini.”

“Baiklah… Kapan dan dimana tempat pertemuannya?” Dengan mengambil nafas panjang akhirnya kuterima juga ajakan pertemuan itu. Ini yang terakhir. Tidak aka nada lagi pertemuan setelah ini. Pikirku.

“kalau di cafe atau restoran, kamu pasti tak mau karena takut ada yang melihat, kan? Bagaimana kalau di rumah kontrakan abang aja.”

“Masih tinggal ditempat yang dulu?”

“Iya…”

“Baiklah… setelah Asar nanti Ama akan kesana.”

*****

Kulajukan mobilku menuju sebuah kawasan di pinggiran kota Banda Aceh. Tepatnya di desa Alue Deah Tengoh yang terletak di kecamatan Meuraxa. Kawasan yang dulu ramai, kini menjadi teramat lenggang. Kontrakan Satria merupakan salah satu rumah bantuan BRR yang disewakan oleh pemiliknya lantaran si pemilik trauma tinggal dikawasan tersebut. Kuturunkan kaca  mobilku… sayup-sayup angin laut menerpa kulit wajahku… Dingin.. Rumah kontrakannya nya memang terletak tak jauh dari garis pantai, aku bahkan bisa memandangi laut yang biru dari tempatku memarkirkan mobil. Indah sekali…

Kulihat seseorang keluar dari rumah kontrakannya, aku seperti mengenali wajah orang yang sedang mengeluarkan motor dari garasi rumah itu. Ah… bukankah itu Ryan. Yah tak salah lagi, itu Ryan… Orang yang dulu pernah kupergoki jalan dengan Farah. Kuurungkan niatku untuk keluar dari mobil. Kunaikkan kembali kaca mobilku berharap ia tak melihatku.

Ada hubungan apa dia dengan Satria?

Tak berapa lama, kulihat Satria membuka pintu, dan melambaikan isyarat tangannya padaku.

Kuhampiri dia.

“Tadi yang keluar siapa?”

“Oh… teman adek abang, namanya Ryan, kenapa? Kamu kenal?”

Kugelengkan kepalaku dengan cepat.

“Ayo masuk.”

Kupandangi lelaki yang kini berdiri dihadapanku ini. Kurus… Wajahnya kumal, tak secerah dulu. Entah berapa hari ia tidak mencukur jenggotnya.

“Ama diluar aja.”

“Kamu merasa nyaman kita ngobrol di luar dan dipandangi setiap orang yang berlalu lalang di depan rumah, begitu?”

Kupandangi sekelilingku… Tak banyak rumah disekitar ini. Kalaupun ada, seperti tidak berpenghuni. Ilalang yang panjang tumbuh dengan suburnya  bak menutupi pekarangan rumah. Kulihat beberapa pasang manusia berlalu lalang dengan motor. Jalanan di depan rumah ini memang tembus ke pantai Ulee Lheue. Sebuah pantai yang sangat terkenal karena menghubungkan kota Banda Aceh dengan pelabuhan Balohan, pelabuhan bebas di pulau Sabang.

Kuikuti langkahnya memasuki rumah bantuan BRR yang bertype 36 itu. Hanya ada sebuah ambal yang tergelar dilantai semen. Disudut dinding yang menghadap pintu terdapat sebuah TV 14 inch yang diletakkan di sebuah buffet kecil dengan satu pintu. Ia kemudian menghidupkan penerangan diruangan ini yang memperlihatkan setiap sudut ruangan dengan jalas. Terdapat pajangan foto wisudanya dengan kedua orang tuanya dan foto-foto touring bersama teman-teman anggota club motornya yang terpajang didinding. Ia memang suka sekali touring, dan setiap sampai di suatu daerah ia pasti mengabadikannya dalam sebuah foto yang kemudian sering dipamerkannya kepadaku saat ia datang berkunjung ke rumahku.

“eum.. abang cuma sendirian dirumah?”

“Iya…”

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa tidak enak berada berdua saja dengannya.

“Ah… kalau gitu Ama pulang aja.” Dengan bergegas aku membalikkan tubuhku.

“OH… !!!!“

Betapa kagetnya aku mendapati dia yang tiba-tiba telah berdiri di hadapannku, menutup pintu dan menguncinya.

“Kamu semakin cantik, Ama… Kamu pasti sangat bahagia sekarang”

“Insya Allah abang juga akan meraih kebahagiaan itu”

Aku merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuannya ini. Mengapa ia mulai menyudutkanku di ruangan ini… Samar-samar kuciumi nafasnya… Astaga… bau alkohol.

Tubuhku gemetar… bibirku kelu… bulu kudukku merinding. Logikaku mulai berjalan cepat. Naluri perempuanku  mengerang. Aku sadar betul aku takkan bisa lari darinya. Dengan tubuh yang gemetar aku tersungkur di sudut ruangan ini.

“Istigfar bang… Ama mohon…!!!” Rintihku… berharap ia akan tersadar. Tak terbayang betapa hancurnya hatiku, membayangkan apa yang akan ia lakukan terhadapku.

“Huh… hanya itu yang bisa kamu katakan saat ini…?? Tak tahukah kamu bagaimana hari-hari yang abang lalui saat ini… tak tahukah kamu bagaimana setiap malam abang berusaha menghapaus bayangan wajahmu yang mengerang kenikmatan karena di setubuhi lelaki itu? Abang cemburu, sayang… abang begitu cemburu membayangkan kamu terpekur dalam dekapan lelaki lain.”

“Jadi… hanya begitu rasa cinta abang terhadap Ama.” Air mataku kini meleleh, nafasku sesak… gigiku gemeretuk ketakutan.

“HANYA SEGITU KAMU BILANG….!!!” Ujarnya keras menggoyangkan bahu dan mengagetkanku.

“Perlakuan apa yang kurang aku beri untuk kamu… selama ini aku begitu menghormati dan mengagumimu. Aku tak pernah menyentuhmu. Kau tahu mengapa?? Karena aku tak ingin menodai bunga pujaan hati abang ini… Dan sekarang… Katakan bagaimana abang bisa menerima kenyataan wanita yang abang cintai ini digumuli oleh laki-laki lain…!!! KATAKAN AMA…!!!”

Ia benar-benar mengejutkanku dengan teriakannya di kupingku. Aku tak ingin memandangnya lagi… Hatiku terlanjur hancur berkeping… Dengan air mata yang mengalir kupalingkan wajahku dan mengatup rapat kedua bibirku. Kupeluk erat tubuhku yang menggigil, meringkuk di sudut ruangan itu.

“Jangan menangis sayang…”

Kali ini aku benar-benar merasa jijik dengan sentuhannya di pipiku… Aku muak melihat wajahnya yang mengiba dihadapanku.

“Lepaskan aku…”

“Abang tidak akan melepaskanmu lagi, sayang… kamu adalah milik abang.”

“TIDAK……………..!!!”

“AKU BUKAN MILIKMU…!!!”

Erangku menatang matanya. Berharap ada sedikit belas kasihnya untukku di sudut mata itu. Tapi ternyata apa yang kudapat…

PLAK…!!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

“ KAU…… JANGAN MENYENTUHKU..!!!

LEPASKAN AKU… !! KAU BAJINGAN…!!

AKU MEMBENCIMU…

DEMI TUHAN… AKU SANGAT MEMBENCIMU….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

*****

“Bunda… Bunda… lihatlah… kuncup mawar di kebun kita sudah mekar.”

Sahutku riang sambil menarik-narik ujung baju bunda yang melambai di depan mataku.

“Iya kakak… bunda sudah lihat, indah ya kak”

“Iya… walau cuma satu tapi bunganya besar… Kakak suka, boleh kakak petik bunda, nanti kakak letakkan di atas tempat tidur biar wangi.”

“Jangan sayang… kalau dipetik nanti bunganya ga indah lagi, ia akan layu…” Ujar bunda yang berjongkok di hadapanku dan membelai pipiku…

“Ayo masuk sayang… sudah sore.. Mau bunda gendong…”

“Iya bunda… “

“Kakak sayang bunda…”

“Bunda juga sayang kakak…. kakak adalah bunga hati bunda… yang keindahannya tak tertandingi oleh bunga yang mekar di taman itu… Kamu adalah bunga yang mekarnya paling indah, sayang… ”

*****

“Bunda… Kak Ama belakangan ini kok jadi muram dan pendiam? Kenapa dia ga turun-turun dari kamar?”

“Mungkin kak Ama lagi kangen sama bang Mun .” Ujar Firda sambil menghabiskan suapan terakhirnya.

“Iya kangen. Tapi kan sebentar lagi bang Mun pulang, kak Ama apa ga ikut menjemput? Jam segini belum turun bisa telat ntar.” Sela Farah.

“Biar bunda cek ke kamarnya.” Wanita setengah baya itu bergegas menaiki anak tangga menuju kamar anak gadisnya itu.

“Kak… ayo makan nak… Kenapa kamu selalu mengurung dirimu dikamar?

“Kakak belum lapar, nanti kalau udah lapar kakak turun”

“Kakak… Kamu sakit?” Tanya wanita itu sambil mengusap kening gadis itu.

“Astagfirullah… Kamu demam kak…!”

Entah sejak kapan air mata telah jatuh dari pelupuk matanya. Ditatapnya wajah ibunda yang penuh kasih, dihampiri dan dipeluknya erat… Cobaan itu terlalu berat untuknya.

“Bunda mengerti perasaanmu, bersabarlah nak, sebentar lagi juga Maimun pulang.”

Kali ini dia pelototi mata ibundanya tajam.

“TIDAK BUNDA…!!!

“KAKAK TIDAK INGIN DIA PULANG… KAKAK MALU BUNDA…. KAKAK TAKUT….” Jeritnya gusar… Dipalingkan wajahnya dari tatapan ibundanya… Diusapnya air mata yang terus mengalir dari pipinya.

“Kamu bicara apa kak, kenapa malu dan takut dengan suamimu sendiri.”

“TIDAK BUNDA…!!!”

“POKOKNYA… KAKAK TIDAK MAU DIA PULANG…!!!”

Jerit gadis itu memenuhi setiap sudut kamar. Jerit kesedihan yang terdengar bagai lolongan keperihan yang dalam.

*****

“Ama dimana bunda?”

“Di atas, sepertinya tidak enak badan… Sudah beberapa hari ini bunda perhatiin dia muntah-muntah terus.”

“Iya.. bang, kayaknya kak Ama lagi hamil. Wah… bentar lagi Farah punya ponaan nih.”

“APA…?!” Teriaknya.

“Lho?!” Sang bundapun tak kalah kagetnya mendapati reaksi menantunya itu.

“Saya ingin menengoknya sekarang.” Dengan bergegas ia bangkit dari tempatnya duduk.

Tak bisa disembunyikan amarah yang menggelora dibalik matanya. Berita itu bagaikan halilintar yang menyambarnya, menusuk perih sampai ke sumsum tulang.

PLAK….!!!

Satu tamparan itu belum cukup memuaskan hatinya.

“PEREMPUAN LAKNAT….!!! BINASALAH KAU DENGAN LELAKI ITU….!!!”

Tak ada lagi belas kasihnya melihat wanita yang dicintainya itu terkapar disudut kamar itu.

“SIAPA DIA…??”

Tak ada jawaban.

Hanya terdengar isak yang tertahan keluar dari mulutnya. Dua tetes darah kental mengalir dari hidungnya.

Hilang sudah kesabaran lelaki itu mendapati istrinya yang diam terpekur… Diguncangkan kuat tubuh istrinya… berharap ia akan membuka mulutnya.

“KATAKAN AMA, SIAPA LELAKI ITU….!!!” jeritnya.

Wanita itu hanya terdiam… Dipalingkan wajahnya dari tatapan nanar suaminya. Tak ada sedikitpun keberaniannya menatap lelaki yang kini berada dihadapannya itu.

“Bunuhlah aku sekarang….!!!” Ujar wanita itu lirih…

“Kau berhak atas diriku, dan kau berhak untuk mengambil nyawaku…” Suara wanita itu terdengar begitu lirih dan parau. Raut kesedihan sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Matanya terlihat begitu lembam… sudah berhari-hari air mata itu mengalir dari mata itu.

Seakan tiada daya dan upaya lagi, ia meringkuk dan memeluk dirinya. Dibenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, di sudut kamar pengantinnya itulah tempatnya kini.

Lelaki yang teramat geram itu lalu menghantamkan kepalan tangannya kedinding kamar… lalu bangkit… meninggalkan istri yang paling dicintainya itu dikamar pengantinnya, sendirian… memeluk duka dalam kesedihan yang dalam.

*****

Bagaimana anak saya dok?

Kandungannya telah rusak. Anak ibu harus segera di kuret malam ini juga, kalau tidak ia akan mengalami pendarahan hebat yang akan membahayakan jiwanya.

Urus surat pernyataan sama perawat, dan minta suaminya untuk menandatangani surat itu.

Biar saya yang menguruskan semua, ayah dan bunda disini saja menemani Ama. Ujar menantunya.

“Kamu yang kuat ya nak…”

Ujar wanita paruh baya itu lirih… Ia tak kuasa memandangi puntrinya terbaring tak sadarkan diri dengan air mata yang terus meleleh dari mata yang tertutup itu.

Silahkan menunggu diluar… Dokter telah bersiap.

“Ini salah Firda… Bunda”

“Sudahlah… Jangan menyalahkan diri terus, ini sudah takdir Allah…” ujar ibunda gadis itu, kemudian menghampiri dan memeluk erat kedua putri tercintanya Firda dan Farah…

Dengan penuh penyesalan ia kemudian menghampiri abang iparnya “Maafkan Firda… seandainya Firda tidak memaksa kak Ama keluar, dia mungkin tak akan jatuh dari tangga.” Ia pandangai wajah abang iparnya yang tersenyum getir.

*****

Ruangan IGD menjadi begitu sibuk sesaat setelah sebuah ambulan terparkir di depan pintu masuk. Perawat dan staff rumah sakit terlihat panik. Sebuah tandu menggotong sesosok manusia yang berlumuran darah dan terbujur kaku keluar dari mobil.

Ada korban kecelakaan. Ujar salah seorang perawat.

Seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Firda dan Farah menjerit panik dalam pelukan ibu mereka.

“Ayah mau kesana dulu memastikan, bunda jaga anak-anak disini.”

“Bunda… Kasihan sekali bang Satria, sampai seperti itu” Ujar Farah dalam kekalutannya.

Tak lama berselang dilihatnya sesosok pria yang sangat dikenalnya mendekat padanya.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai teman Satria kepada ibundanya.

“Saya Ryan… teman Satria. Kebetulan saya lagi Koas di RS ini…” Ia melirik gadis yang berdiri disamping wanita itu sebentar.

“Satria kecelakaan di perempatan jalan Banda Aceh-Medan.”

“Nyawanya tak bisa diselamatkan.” Ujarnya menelan ludah.

Innalillahiwainnailaihirajiu’n” Ucap kedua keluarga itu serentak.

“Jangan bilang-bilang kak Ama tentang hal ini ya…!” Ujar wanita itu kepada kedua anak gadisnya.

Lelaki yang bernama Ryan itu lalu menghampiri pria yang tengah duduk menyendiri di ruang tunggu IGD. Dipandangi sebentar lelaki yang sedang kalut itu sebelum kemudian duduk disebelahnya.

“Saya tidak tahu kalau wanita yang dicintai Satria adalah kakak Farah”

“Hari itu… eum… saya begitu kaget kembali kerumah Satria… melihat Ama tak sadarkan diri… Saya tidak menyangka ia akan melalukan itu. Ia betul-betul kesetanan. Ia menjebak dan memanfaatkan kelemahan hati Ama.”

Dengan nafas yang berat ia lalu melanjutkan.

“Saya yang mengantar Ama pulang… saya yakin Ama tak akan pernah sanggup menceritakan ini pada keluarga termasuk kepada abang…”

“Tadi pagi sebelum berangkat touring, Satria menitipkan surat ini untuk Ama.”

“eum… saya tidak meminta abang untuk memaafkan Satria… Tapi saya yakin wanita yang baru saya kenal itu sesungguhnya adalah wanita yang hebat yang selama ini selalu menjaga harga diri dan kehormatannya.” Ujarnya kemudian sebelum berlalu pergi.

Tinggalah kini lelaki yang sedang dirundung malang itu sendiri… Dengan nafasnya yang  berat ia sembunyikan isaknya. Ia sobek amplop surat itu dengan paksa… dan mencari sedikit penerangan. Dengan perasaan kecewa yang tertahan ia membaca setiap kata disurat tersebut. Hingga tak kuasa lagi ia menahan air matanya untuk tumpah…

Ama kekasihku…

Aku sadar sebanyak apapun air yang ada di lautan takkan mampu menghapus dosaku

Aku yang telah merendahkan dan menghina dinakan diriku di hadapanmu

Aku manusia laknat yang telah menodai kesucian lahir dan batinmu

Aku melolong dalam keheningan malam memanggil namamu

Berharap kau memaafkanku…

Aku sadar kata maaf tak cukup untuk menyembuhkan lukamu

Aku manusia terkutuk yang telah merampas bahagiamu

Rasa cinta ini telah menggerogoti hati dan pikiranku

Sang takdir sekalipun tak memihak kepadaku

Aku yang terlanjur dibutakan oleh nafsu

Terkutuklah aku dan cintaku

Ampunilah aku…

“Maimun…”

Sebuah suara mengusiknya. Dengan cepat ia remukkan surat itu dalam genggamannya dan mengusap air matanya.

Dengan bergegas ia mengikuti ibu mertuanya masuk kedalam kamar operasi.

*****

“Bu… Surat sponsor untuk keberangkatan ke Australia sudah keluar, rencana kami mau mengajak Ama untuk bersama-sama mengurus VISA di Medan.”

“eum… Ibu sungguh sangat menyesal mengatakan ini… eum… Ama sudah berniat untuk mengundurkan diri dari beasiswa itu, dia ingin dirumah saja mengurus suami.”

“Berangkat ke Australia memang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu, eum.. yah, siapa yang tahu setelah menikah pemikiran juga jadi berubah, kan.” Senyum wanita itu getir.

“Oh.. saya maklum buk… Sampaikan salam saya dan teman-teman untuk Ama.” Ujar gadis itu ramah sambil berlalu pergi.

Tak terbayang betapa pilunya hati wanita itu melihat sahabat anak perempuan tertuanya itu pergi.

“Bunda… Kak Ama baik-baik aja kan?” Ujar Farah yang tak dapat lagi membendung air matanya.

“Iya Bunda… Firda juga takut, kak Ama kok jadi gitu bunda…”

Wanita itu kemudian menghampir kedua anak gadisnya dipeluknya erat…

“Berdoalah untuk kakak kalian… Bunda yakin suatu hari nanti dia akan kembali seperti dulu.” Ujar sang bunda lirih.

*****

“Maaf ya nak, selalu merepotkan, padahal kamu baru saja pulang.”

“Tidak apa apa bunda. Ini memang sudah menjadi tugas dan tanggug jawab saya.” Ujar lelaki itu sambil menerima senampan makanan dari tangan mertuanya itu.

Dengan bergegas ia menaiki anak tangga menuju kamar pengantinnya. Tak ada lagi aroma melati yang tercium… tak ada lagi hiasan bunga-bunga yang menggoda.. Dengan terteggun ia memandangi sesosok tubuh yang meringkuk di sudut kamar di sebelah ranjang pengantinnya. Sesosok wanita yang yang sedang kalut dalam ketakutan yang dalam, memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajah diantara kedua lututnya. Dinyalakannya penerangan dikamar itu…. Wanita itu tak juga berkutik… Ia terdiam… Kaku…

Dengan langkah pelan, ia menghampiri dan menyentuhnya…

“Sayang… Makan yuk… Abang suapi.” Bisiknya lembut.

Wanita itu menengadahkan wajahnya, memandang lelaki yang berada di depannya lama…

Lalu membuat sebuah anggukan tanda setuju.

Dengan perlahan dan penuh kasih ia suapkannya nasi itu ke mulut wanita itu… sesendok demi sesendok. Betapa miris hatinya memandang wanita yang dicintainya itu kini.

Dengan sabar ia memberikannya minum, wanita ini terlalu patuh pada ajakannya, tak ada penolakan. Hal yang sama tidak akan terjadi selain dengan suaminya itu.

Diraihnya tubuh wanita itu dengan ringan, ia mendekap dan menggendongnya dengan perlahan ke atas tampat tidur mereka.

Dengan perlahan ia membelai rambut istrinya dengan penuh kasih, sambil mensenandungkan salawat dan doa-doa tidur. Hal yang biasa ia lakukan untuk istrinya itu.

“Kamu cantik sayang… Tiada wanita yang bisa menggantimu dihati abang.” Kecupnya mesra dikening wanita itu.

“Abang yakin… Suatu hari nanti kamu akan kembali seperti dulu… Abang akan menanti saat itu tiba, karena abang yakin itu tidak lama lagi… Abang akan sabar menunggu suatu saat nanti kamu akan mengenakan baju tidur yang abang pajang itu dan menyambut abang dengan kasih dan cintamu…” Bisiknya parau.

“Kau adalah wanita yang hebat… sayang, setelah ini.. abang janji tak akan lagi kesedihan di matamu, tak aka nada lagi duka di hatimu… Bukankah dulu abang telah berjanji akan membahagiakanmu. Abang akan mengembalikan lagi seyuman di wajahmu… Abang janji sayang… Abang tidak akan meninggalmu lagi”

Dipandangi lagi wajah istrinya itu dengan penuh kasih, dengan lembut ia mengecup kening wanita yang kini telah terlelap dipelukannya dan menghapus butiran bening yang keluar dari pelupuk mata yang tertutup itu.

*****

Teruntuk suamiku tercinta….

Tiada kata yang dapat kurangkai untuk menunjukkan betapa aku begitu mengagumimu

Tiada puisi yang mampu menjabarkan bait-bait cintaku untukmu

Kehadiranmu telah memberikan nafas dalam kehidupanku

Pada hari itu aku telah menunaikan janjiku

Dan kini Tuhan pun telah menunaikan janjinya untukku

Ia menjabah doa-doaku

Dan doa-doa engkau, wahai suamiku

Tuhan yang pengasih, begitu mengasihiku

Ia kembali menitipkan cinta untukku

Sebuah cinta yang tak kenal malu

Suatu pemujaan tak bercela

Dan hastrat tak berdosa

Terkadang Allah tidak memberi kita apa yang kita inginkan… tapi yakinlah Ia memberikan yang kita butuhkan.

TAMAT

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Puisi dan Prosa and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bukan Siti Nurbaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s