Plastic Surgery… Solusikah?

"Anne and Ama"

Anne and Ama

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman saya diajak oleh Anne, pengarah (supervisor) yang bertanggung jawab terhadap bimbingan konseling akademik dan akomondasi kami selama kuliah di Deakin University dan tinggal di Geelong, Australia untuk berjalan-jalan ke Melbourne. Dalam suasana yang akrab saat makan siang, dia yang baru saja pulang dari menghadiri suatu konferensi tingkat international  di perguruan tinggi ternama di Padang, Sumatera Barat menceritakan tentang pengalamannya mengunjungi Indonesia dan sekelebat masalah tentang pelaksananaan konferensi tersebut. Tapi yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika dia menjelaskan tentang kehadiran seorang keynote speaker terkemuka dari US yang merupakan seorang wanita peraih nobel tahun 2007, karena teorinya yang mengaitkan ilmu matematika  dalam bidang Ekonomi.

Kehadiran beliau tentu saja sangat dinanti dan paling ditunggu oleh peserta konferensi.  Tapi untuk Anne pribadi, pertemuan dengan wanita tersebut bukan merupakan yang pertama. Sebelumnya dia pernah bertatap muka langsung dengan wanita tersebut di USA.

Kembali kepada alasan saya yang tertarik dengan cerita wanita peraih nobel tersebut, tak lain karena keheranan Anne yang setiap bertemu dengannya selalu dengan wajah yang kelihatan berbeda. “That time, she came with a different face; again, it was so ridiculous. She had changed her face for many times, I hardly even knew her. Indeed, she is a plastic surgery addicted.

Saya yang mendengarkan hal tersebut tentu merasa sangat penasaran dengan ceritanya yang penuh dengan semangat 45 itu. Tentu saja kedatangan wanita tersebut mengundang perhatian bukan hanya tamu undangan, tapi juga mengejutkan masyarakat sekitar yang kebetulan bertemu dengannya. Wajahnya seperti mengenakan topeng, yah tapi bukan topeng yang bagus tentunya, kalau akhirnya jadi cibiran banyak orang.

Saya sendiri sungguh tak menyangka wanita cerdas berkaliber peraih nobel melakukan hal seperti itu. Anne lebih lanjut menceritakan bagaimana fenomena operasi plastik telah menjadi trend dan gaya hidup hampir 90% masyarakat di US, tidak hanya wanita tapi juga laki-laki yang ingin tampil macho dan kekar.

Tindakan operasi plastik memang telah sering sekali dibahas dan dibicarakan. Baik itu pro dan kontra, termasuk resikonya. Tak terbilang banyaknya selebritis baik international maupun dalam negeri yang melakukan hal tersebut baik dalam skala yang kecil maupun yang besar. Menurut pengakuan Anne, di USA, operasi plastik juga menentukan tingkatan sosial seseorang, yang berarti semakin sering operasi yang dia lakukan, semakin tinggi ‘prestige’ yang dia dapatkan ditengah-tengah pergaulan sosialnya. Para sosialita ini tak hanya menjadi pelanggan tetap, tapi juga menjadi penikmat sejati. Dan anehnya, fenomena ini kemudian merambah sampai ke anak-anak muda dari berbagai kalangan dan latar belakang. Tak heran jika kasus operasi plastik untuk kecantikan ini menjadi booming di sana. Operasi plastik dianggap sebagai solusi untuk memperbaiki kekurangan dan menambah kepercayaan diri, dan untuk tujuan tertentu membuatnya welcome di suatu komunitas.

Saya pernah menyaksikan ditanyangan Oprah yang disiarkan di salah satu station TV di Australia yang membahas fenomena bedah plastik di negara-negara seperti China dan Amerika.  Kalau di China, operasi yang popular adalah operasi bedah mata (untuk membuat tampilan yang lebih belok dan besar), hidung (agar lebih mancung), dada dan bokong (agar terlihat lebih padat dan berisi). Sedangkan di Amerika muncul trend untuk menyerupai penanpilan seorang artis atau selebrita. Sehingga ia dengan rela melakukan bedah di seluruh tubuhnya.

Di samping itu, tren terbaru yang tengah popular di China adalah usaha untuk meninggikan badan lewat jalan operasi medis. Karena saya bukan dari kalangan medis, maka saya menjelaskan secara awam saja. Tayangan tersebut menampilkan seorang gadis remaja China yang melakukan operasi penambahan tinggi badan lewat operasi bedah . Awalnya kedua tulang kaki si gadis dipotong dengan semacam gergaji untuk kemudian ditambahkan semacam besi yang dapat diterima oleh kondisi tubuh pada tulang betisnya. Operasi itu bukan lagi operasi skala kecil, resikonya, si gadis bisa saja kehilangan kakinya atau bahkan cacat semur hidup. Proses pemulihannya memakan waktu hampir dua tahun. Pada bulan-bulan pertama paska operasi, ia hidup bagaikan orang yang cacat, ditambah lagi rasa sakitnya yang ga bisa saya bayangkan. Saya yang menontonnya saja sampai merinding.

Saya yakin setiap langkah medis yang diambil dengan kesengajaan pasti memiliki resiko, baik itu kecil maupun besar, bisa jadi sekarang, atau di kemudian hari. Tapi apakah langkah tersebut memberikan solusi bagi permasalahan kepercayaan diri atau kemampuan untuk ujuk gigi?

Well, beberapa yang sukses merubah penampilan dengan melakukan operasi tersebut menganggap bahwa operasi plastik merupakan solusi untuk menambah rasa percaya diri dan menunjukkan eksistensi dalam komunitas tertentu. Tapi ada juga pasien yang menyesal karena terjadi salah prosedur, dan hasil kesempurnaan itu tidak bertahan selamanya, yang membuat mereka harus mengulangi lagi prosedur operasi tersebut, akibatnya mau ga mau mereka dengan sendirinya menjadi ketagihan, kan? Belum lagi rasa sakit yang mereka rasakan sewaktu-waktu yang membuat mereka menjadi sahabat setia pil-pil sejenis‘painkiller’,

Bagi saya pribadi, saya malah menganggap mereka adalah orang-orang yang mempunyai masalah kejiwaan. Mereka adalah manusia yang tidak bisa menerima kekurangan dan tidak mampu melihat potensi yang ada pada diri mereka sendiri. Bagi mereka, kesempurnaan adalah segalanya. padahal nobody’s perfect, bukan?! Yang lebih parah lagi, sebagian dari mereka bahkan menikmati dan ketagihan dengan tindakan operasi tersebut dan seakan tak pernah puas. Dan bagi anda yang menganggap yang ‘palsu’ itu adalah kecantikan dan keindahan, saya rasa anda lebih gila lagi dari mereka. Ah… dunia ini juga sudah gila. Semoga saja kita masih menjadi orang yang waras ditengah orang-orang gila. Jangan malah ikut-ikutan menjadi gila.

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Reportase and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Plastic Surgery… Solusikah?

  1. math games says:

    post not working in firefox

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s