Memoir of December

Keluarga Atiby (Photo : Ama Atiby)6 tahun yang lalu, Minggu, 26 Desember 2004

Hari itu adalah mimpi buruk tidak hanya untukku tapi buat masyarakat Aceh khususnya. Bencana 26 desember 2004 yang tak mungkin terlupakan karena telah menoreh luka phisikis yang cukup dalam bagi diriku. Sedikit banyak hal itu telah merubah pandangan hidupku.

Bencana diawali dengan gempa bumi yang sangat dahsyat berkekuatan 8.9 SR di pagi minggu kelabu ketika orang-2 baru mau memulai aktifitasnya. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara bising orang yang menjerit “Air Laut Naik”(waktu itu kami belum tau klo itu tsunami). Kontan kami semua kaget (pagi itu semua keluarga sedang berkumpul dirumah untuk mengantar orang tuaku yang masuk asrama haji nanti siang). Tak perlu berpikir panjang kami langsung mengungsi ke dataran tinggi (daerah pegunungan). Waktu itu kami berfikir inilah akhir dunia (Hari kiamat….!!!!).

Orang-orang kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri dari amukan air laut yang maha dahsyat. Alhamdulillah keluargaku masih diselamatkan dan masih diberi umur yang panjang. Siang harinya kami yang baru kembali dari pengungsian mendapat berita bahwa kota Banda Aceh porak poranda, ribuan mayat berkelimpangan di jalan-2 ibu kota Banda Aceh. Abang kandungku yang tadi pagi keluar kekampus akhirnya pulang dan menceritakan bagaimana ia dengan mata kepalanya sendiri melihat gulungan gelombang air laut setinggi 10 meter tepat didepan matanya. Tapi syukur Alhamdulillah dia masih diselamatkan Allah dan masih sempat menolong orang.

Ayah dan Firda (adik perempuanku) siangnya sempat berkeliling melihat kondisi kota yang telah porak-poranda yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Pulangnya mereka menceritakan apa yang mereka lihat dan yang pasti mngerikan. Aku tak bisa membayangkannya (Aku punya phobia ga bisa melihat darah dan jenazah).

Sore harinya kami kembali mengungsi mengingat gempa susulan yang terus terjadi dan ada isu terjadi tsunami susulan, rumah kami juga lumayan dekat dengan daerah terkena bencana. Malam harinya Ayah mendapat kabar jemaah calon haji kloter 9 kocar kacir & lebih dari 50 orang jemaah haji menjadi korban termasuk keluarganya. Orang tua ku sempat shock dan bersyukur karena Allah telah memberi Hikmah-Nya dengan memberi mereka kloter yang terbaik yaitu kloter 10.

Senin pagi (27 Desember) kami kembali ke rumah dan dikejutkan dengan berita ‘hilangnya’ Pak Wa’ (sepupu ayah) yang merupakan Walikota Banda Aceh. Pagi itu juga Kedua orang tuaku ke tempat Ma ‘Wa yang mengungsi di rumah ajudannya  dan berniat untuk menjemput keluarga Pak’Wa yang masih selamat.

Sepanjang hari itu kami terus berada dalam kepanikan untuk mengurus saudara-saudara dan sepupu yang mengalami luka-luka baik fisik maupun trauma. Ayah dan juga beberapa sepupu berkumpul dan memutuskan untuk mencari jenazah P’Wa dan kakaknya yang ikut menjadi korban. Aku penasaran ingin melihat langsung dengan mata kepala sendiri daerah-daerah yang telah porak-poranda. Tapi saudara dan orang tuaku melarang karena tau kondisi pisikisku yang punya phobia melihat jenazah apalagi jumlahnya puluhan ribu (saat itu evakuasi jenazah belum dilakukan). Jenazah Kakak Pa’wa berhasil ditemukan pada hari ketiga (Selasa 28 Desember) di pendopo walikota dan disemayamkan di rumahku dan langsung di kuburkan.

Siangnya, situasi masih sangat mencekam, kami kehabisan pangan, penerangan juga mati total ditambah lagi muncul isu penyebaran penyakit dan bau yang tak sedap yang disebabkan oleh banyaknya jenazah yang belum dievakuasi. Akhirnya keluarga memutuskan untuk mengungsikan korban yang cedera dan untuk menjaga kondisi mental Fauzan (si bungsu, 7 tahun) yang kelihatan sangat tertekan (adikku yang satu itu biasanya rewel jadi sangat pendiam) ke rumah kakek yang memang terletak didaerah yang jauh dari garis pantai dan dirasa cukup aman untuk sementara.

Dikeluarga cuma ayah, ibu  dan aku yang bisa menyetir mobil dengan baik. Ayah pada saat itu telah sampai di batas kemampuannya karena mengurus segala sesuatunya dari pencarian jenazah sampai proses penguburan hari itu. Akhirnya aku memutuskan dan memberanikan diri untuk menyetir mobil ke rumah kakek yang lumayan jauh (sekitar 1 jam perjalanan).

Di dalam mobil yang penuh dengan korban yang luka parah dan si bungsu, kami berangkat sekitar jam 1 siang dengan cuaca yang cukup panas saat itu. Awalnya masih lancar kondisiku juga sangat tenang & stabil karena daerah yang kami lalui tidak terkena bencana. Tapi akhirnya kami melewati daerah LAMBARO yang pada saat itu dijadikan pusat pengumpulan sementara jenazah hasil evakuasi. Aku tidak mengetahui hal itu sebelumnya, akhirnya mau ga mau aku melihat ratusan jenazah hasil evakuasi yang disusun di sepanjang jalan dan ‘gunungan’ jenazah manusia dalam truk dan tronton dengan kondisi yang sangat (maaf) mengenaskan dan hal itu membuatku ‘terpukul’ secara Mental.

Pemandangan itu kulihat dengan sangat nyata dan tidak akan pernah bisa ku lupakan sampai sekarang atau mungkin seumur hidupku. Dari sana dimulai kemacetan yang luar biasa dikarenakan banyaknya orang yang mencari sanak familinya yang menjadi korban. Dimulailah perperangan antara hati dan otakku. Seluruh tubuhku bergetar tak hentinya. Dengan tangan yang gemetar aku memegang stir dan dengan kaki gemetar pula aku menginjak dan menyeimbangkan gas dan pedal. Sementara di depan mataku tergeletak ratusan jenazah yang disejejerkan di pinggiran jalan. Tapi aku harus tegar, tak henti-hentinya aku melafalkan surat Yasin. Otakku terus berjuang agar jangan sampai aku menangis karena klo itu terjadi, aku bisa lepas kontrol dan kendali padahal aku punya tanggung jawab untuk mengantar keluargaku dengan selamat sampai tujuan. Si bungsu saat itu menjadi sangat tenang & tegar dan itu juga yang mungkin membuatku terus bertahan dan tetap berkosentrasi di tengah kemacetan dan suhu yang panas seolah membuat tubuh ku mendidih karena tegang.

Melihat kakek dihalaman rumahnya spontan membuat ku berlari memeluk dan menumpahkan tangis yang selama ini tertahan. Aku menangis & menjerit sekerasnya-kerasnya dan itulah untuk pertama kalinya aku menangis didepan umum dengan emosi yang begitu meluap-luap.

Pulangnya aku kembali melihat pemandangan yang begitu menyayat hati itu lagi. Aku sudah tidak sabar untuk secepatnya sampai ke rumah. Begitu sampai dirumah, seolah mengerti apa yang terjadi mama telah berdiri di depan pintu. Tak ada gunanya lagi aku untuk terus tegar, aku berlari, memeluk, menangis di pelukan ibu. Ibuku ternyata juga sudah punya firasat sebelumnya. Sepanjang hari itu aku terus menangis dan benar-benar berada dalam kondisi mental yang down. Keluarga sangat khawatir dengan kondisiku saat itu memutuskan malam itu juga mengungsikan aku ketempat Adik Ayah (Pak cik) di Aceh Timur (IDI). Sekitar jam 11 malam aku, Farah (adikku) dan beberapa sepupu pergi ke IDI. Besoknya, ayah, ibu, dan adik-adikku yang lain menyusul ke IDI, setelah menjemput Fauzan tentunya yang masih tinggal dirumah kakek.

Sekitar lebih kurang 10 hari kami di IDI, ayah dapat kabar keberangkatan jemaah haji kloter 10 yang sempat tertunda dan memutuskan untuk segera pulang ke Banda Aceh. Kondisiku dan adik-adik juga sudah stabil. Kami pulang ke kota yang masih porak-poranda. Dengan persiapan yang serba terburu-buru akhirnya cuma kami berlima yang mengantar ayah dan ibu berangkat (saudara-saudara kami belum ada yang berani kembali ke Banda Aceh).Abg Fajerul, Fauzan, Firda, Farah (Photo : Ama Atiby)

Dirumah, hanya ada abang, dua orang adik perempuanku (Firda dan Farah) dan si bungsu Fauzan. Saat itu komplek perumahan kami masih sepi krn belum banyak tetangga yang pulang, paling ada cuma pembantu atau penjaganya. Selama sebulan aku berperan menjadi ibu rumah tangga dengan situasi dan kondisi yang serba kacau balau pasca musibah. Aku harus bisa melindungi adik-adik terutama si bungsu yang trauma gempa. Waktu itu gempa susulan masih sering terjadi.

Walaupun lebih kurang cuma sebulan aku berperan jadi Ibu rumah tangga, sudah cukup membuat ku mengerti dan sadar ga mudah untuk mengurus rumah, aku meletakkan penghormatan yang setinggi-tinggi nya dan salut kepada semua ibu yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan keluarganya. Mengurus rumah bukanlah pekerjaan yang mudah. Terima kasih ibu… Aku jadi sedikit berbangga karena nanti bakal menjadi orang dengan pekerjaan yang sangat mulia itu.

Banyak pengalaman & pelajaran yang aku dapatkan pasca Musibah. Susah, sedih, air mata & pengorbanan. Aku juga sempat bekerja di beberapa NGO asing sebagai translator. Aku bisa bertemu dengan berbagai orang dari berbagai negara, berbagi cerita, mendapat pengalaman bekerja dengan orang asing dan mendapat teman-teman baru. Aku juga ‘terjun’ langsung ke daerah-daerah pasca bencana dan berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi korban baik harta, maupun sanak keluarga. Bekerja dengan orang asing memang lumayan menjanjikan dari segi pendapatan tapi juga harus full time. Aku cuma bekerja dengan sistem kontrak beberapa minggu untuk mengisi liburan kuliah atau libur puasa. Baru setelah kuliah aku bisa bekerja secara professional di salah satu organisasi bilateral kepunyaan pemerintah Jepang.

Musibah tsunami memang telah terjadi 6 tahun yang lalu. Tapi sisa-sisa kehancurannya masih sangat terasa bagiku. Pasca musibah itu, hampir setiap malam aku bermimpi dikejar-kejar gelombang bahkan sampai sekarang. Sering sekali aku mimpi kelelep dalam amukan gelombang dan terbangun sambil menggap-menggap. Aneh memang, sampai-sampai sangking penasarannya dengan gelombang aku mulai meneliti tentang gelombang sebagai topik penelitian S-1, padahal sebelumnya aku sudah mengajukan judul (proposal) untuk topik yang lain. Yang berarti aku mengorbankan 1 tahun untuk penelitian tentang gelombang tersebut.

Satu obsesiku yang belum terpenuhi, aku ingin sekali belajar berenang. Entah kenapa beberapa bulan yang lalu aku sempat kepikiran untuk belajar berenang. Pernah suatu kali aku cerita dengan ibuku perihal mimpi-mimpiku sampai aku berujar “ Ma… Jangan-jangan nanti kakak meninggalnya di laut atau dalam air ya ma… Sedih kali lah ma… Meninggal dalam air itu sangat menyakitkan. Dalam mimpi aja menggap-menggap ga karuan. Syukur masih terbangun, klo ngak mungkin kakak sudah meninggal… “

“Astagfirullah kakak…!!! Istigfar…!!!. Ingat sama Allah!” Ujar ibuku, menyadarkanku dari pikiran burukku.  Kusadari memang tidak baik berpikiran buruk seperti itu. Sekarang aku lebih memilih untuk melawan rasa takutku. Kadang aku suka berjalan-jalan ke pantai dan menikmati memandangi gelombang (hal yang jarang sekali sekali kulakukan sebelum tsunami dulu) sambil berinstropeksi diri bagaimana mensyukuri kehidupan yang masih diberikan oleh Allah ini. Bagaimana aku bisa memanfaatkan sisa waktuku di dunia yang fana ini. Karena sesungguhnya dunia ini hanya sementara. Kematian itu adalah WAJIB bagi setiap makhluk yang bernyawa. Dan akhirat itulah yang kekal dan tempat kita kembali nanti (Ah.. butiran bening dimata ini sungguh tidak bias kutahankan lagi).

*Teruntuk arwah para syuhada yang menjadi korban keganasan gelombang tsunami 2004 dan untuk saudara-saudara yang telah mendahului kami dengan iman, semoga Allah memberikan tempat yang layak disisi-Nya. Tunggulah kami disana, karena tidak akan lama lagi kami pun pasti akan menyusul kalian.

Ama Atiby

26 Desember 2010

Geelong, VIC – AUS

07.25 AM

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Reportase and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s