Westerners yang ramah

Hampir dua bulan sudah aku menjadi musafir di negeri kangguru, tepatnya di kota Geelong, negara bagian Victoria-Australia. Banyak suka duka yang aku alami sebagai ‘pendatang baru’ di kota nomor dua terbesar di Negara bagian Victoria tersebut, termasuk masalah penyesuaian terhadap cuaca, budaya dan gaya hidup. Walaupun termasuk kota terbesar, geelong ternyata lebih dikenal dengan sebutan ‘Quite Town’.

Aku ingat sekali ketika pertama kali aku dan teman-temanku menginjakkan kaki di Geelong. “Semua mata tertuju pada kami” mungkin adalah gambaran yang cocok banget ditunjukkan bagi kami. Betapa tidak, dengan atribut keislaman (jilbab) yang kami kenakan, sudah membuat kami terlihat ‘berbeda’ dan ‘menyolok’. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas aku tidak mau ambil pusing. Berbeda dengan Melbourne, yang multicultural dimana banyak terdapat masyarakat muslim atau yang berasal dari Indonesia, geelong termasuk kota yang ‘sangat terpencil’. Hanya beberapa pendatang (immigrant) dari India, Cina, warga ‘kulit hitam’ dan ‘merah’, namun mereka sudah menetap selama puluhan tahun. Jadi jelas sekali bahwa mayoritas penduduk geelong adalah warga kulit putih. Klopun ada pelajar yang muslim, asalnya dari Malaysia. Sehingga bisa dipastikan kehadiran kami memunculkan kesan tersendiri. Ada yang memusuhi (Baca: Stereotype or… Because we are Muslim), tapi banyak juga yang bersahabat.

Salah satu yang membuat aku berkesan selama tinggal disini adalah keramahan mereka. Yah, walaupun budaya ‘western’ itu lebih bersifat individual (Loe Loe.. Gue Gue) tapi mereka punya sisi keramahan yang bisa dibilang sangat jarang sekali ditemukan di Negara timur yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Ungkapan seperti “Hallo”, “How are you” dan “Thank You” telah menjadi budaya disini. Mungkin itu sepele, tapi sebenarnya tidak. Buat aku ungkapan-ungkapan tersebut memiliki makna tersendiri. Semisal, ketika kita melakukan transaksi jual beli di kasir, mereka selalu mengawali pembicaraan dengan “Hallo, how are you today?” untuk memulai komunikasi dengan setiap pelanggan. Bisa dipastikan setiap kita bertemu dan memulai percakapan dengan mereka (baca:westerners) pasti mereka akan memulai dengan sapaan tersebut dan diakhiri ungkapan “Thank You” atau “See you later”. Sapaan atau greeting dari mereka telah membuat kita merasa terlayani dan tidak diabaikan.

Masih teringat di kepalaku saat terakhir aku berbelanja di suatu swalayan di Indonesia, kasirnya terlihat sangat cuek dengan wajah yang merenggut. Tak ada sapaan dan tak ada perkataan. Transaksi berlangsung tanpa suara (diam tanpa makna). Ugh… aku sampai berpikiran, tu cewe lagi ‘dapet’ kali ya? Masam gitu?

Didalam Islam, kita mengenal salam seperti ‘assalamualaikum’ sebagai ungkapan salam antara sesama muslim yang bermakna doa. Bahkan Rasullulah sangat menganjurkan salam sebagai ungkapan cinta dan persaudaraan antara sesama muslim. Tapi sayang sekali budaya salam ala muslim ini telah terkikis apalagi di tengah pergaulan remaja modern. Mereka menganggap mengucapkan salam itu kuno, ga modern dan ketinggalan zaman. Salam itu kan tidak sebatas hanya ketika mengetuk pintu atau bertamu, tapi pada hakikatnya salam itu diucapkan ketika kita bertemu dengan sesama muslim, dimanapun dan kapanpun kita berada.

Jadi, Budayakanlah Menegur dan Memberi Salam…!

About lovewatergirl

(Aku adalah aku... Tidak akan ada yang seperti aku...) Aku hanya akan menjadi diriku sendiri.
This entry was posted in Reportase. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s